BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Psikologi dewasa ini semakin menjadi bagian yang sangat sentral pada ilmu pengetahuan dan khususnya dalam dunia pendidikan. Dengan psikologi manusia dapat mempelajari setiap gejala yang terjadi baik itu didalam masyarakat maupun individu pada khususnya. Dalam psikologi terdapat banyak bagian yang terkandung didalamnya salah satunya adalah cabang keilmuan psikologi pendidikan yang banyak berkaitan dengan pendidikan dan didalam pendidikan itu terdapat banyak konsep ilmu diantaranya belajar dan mengajar.
Hakekat kejiwaan manusia terwujud dengan adanya kekuatan-kekuatan serta aktifitas-aktifitas kejiawaan dalam diri manusia, yang semua itu menghasilkan tingkah laku yang lebih sempurna dari pada makhluk lain. Tanpa disadari manusia secara tidak langsung telah melakukan suatu perubahan dimana perubahan tersebut terbentuk dari tidak bisa menjadi biasa, tidak tahu menjadi tahu dan seterusnya hingga manusia tersebut menjadi manusia sempurna (insan kamil).
Belajar bukanlah kegiatan yang hanya berlangsung di dalam kelas saja, tetapi juga berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Belajar tidak hanya melibatkan yang benar saja, tetapi juga melibatkan yang tidak benar, missal ada murid yang salah mengeja kata, kita tidak dapat mengatakan bahwa tidak belajar, hanya saja dia mengeja yang salah. Jadi belajar tidaklah selalu dalam hal pengetahuan atau keterampilan, tetapi juga dapat berkenaan dengan sikap, tingkah laku, kejiwaan dan perasaan.
Unsur asasi dari belajar adalah selalu melibatkan adanya perubahan dalam diri orang yang belajar. Perubahan itu bisa terjadi dengan sengaja bisa lebih baik bisa lebih buruk. Agar berkualitas sebagai belajar, perubahan itu harus dilahirkan oleh pengalaman, oleh interaksi antar orang dengan lingkungannya. Untuk itu dalam makalah ini kami menguraikan tentang definisi belajar, definisi psikologi serta konsep dan makna psikologi belajar.
Lain halnya dengan mengajar, mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab moral yang cukup berat. Berhasilnya pendidikan pada siswa sangat bergantung pada pertanggungjawaban guru dalam melaksanakan tugasnya. Zamroni (2000:74) mengatakan “guru adalah kreator proses belajar mengajar”. Ia adalah orang yang akan mengembangkan suasana bebas bagi siswa untuk mengkaji apa yang menarik minatnya, mengekspresikan ide-ide dan kreativitasnya dalam batas-batas norma-norma yang ditegakkan secara konsisten. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa orientasi pengajaran dalam konteks belajar mengajar diarahkan untuk pengembangan aktivitas siswa dalam belajar.
Meliat dari semua pernyataan diatas maka penulis ingin mengkaji lebih jauh lagi tentang bagaimana peran psikologi dalam pendidikan dan khususnya dalam pembelajaran.
B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang kami angkat dalam makalah ini adalah :
 Pengertian psikologi secara umum
 Bagaimana psikologi sebagai ilmu
 Apa itu psikologi pendidikan
 Pengertian belajar
 Apa yang dimaksud pembelajaran
C. TUJUAN
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah :
 Untuk mengetahui peran psikologi dalam proses belajar dan pembelajaran.
 Untuk mengetahui pengertian psikologi secara umum
 Untuk mengetahui peran psikologi sebagai ilmu
 Untuk mengetahui psikologi pendidikan
 Untuk mengetahui pengertian belajar
BAB II
PEMBAHASAN
Sebelum kita membahas lebih jauh ada baiknya kita mengkaji satu persatu dari pokok pembahasan kita kali ini yang mana terkait dengan psikologi, pendidikan, belajar maupun mengajar
A. PENGERTIAN PSIKOLOGI
Psikologi merupakan cabang ilmu yang mempunyai peran yang sangat penting dalam ilmu pengetahuan dan merupakan cabang ilmu pengetahuan yang tergolong muda, psikologi memiliki pengertian sebagai berikut
Secara etimologis, psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup, dan “logos” atau ilmu. Dilihat dari arti kata terseJbut seolah-olah psikologi merupakan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Jika kita mengacu pada salah satu syarat ilmu yakni adanya obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat jika kita mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa, karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa diamati secara langsung atau psikologi adalah ilmu yang mempelajari gejala-gejala kejiwaan yang dapat dilihat melalui tingkah laku.
Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mungkin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yakni dalam bentuk perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demikian, psikologi kiranya dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
a. psikologi sebagai ilmu
Psikologi sebagai ilmu dimulai pada tahun 1879, sewaktu Wilhelm wundt mendirikan laboratorium psikologi di kota Leipzig Jerman. Wundt seorang ahli filsafat, ahli faal dan psikologi. Ia mulai mengadakn penelitian-penelitian psikologi melalui percobaannya mengenai pikiran atau akal manusia.
Psikologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah memiliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni :
• Ontologis; obyek dari psikologi pendidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, orang tua peserta didik dan masyarakat pendidikan.
• Epistemologis; teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdasarkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun studi cross sectional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif.
• Aksiologis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapaian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan.
Tiga masalah yang menjadi pusat perhatian penelitiannya yaitu :
• Proses kesadaran serta unsur-unsur yang membentuknya,
• Cara unsur-unsur itu saling berhubungan, dan
• Menentukan hukum atau aturan dari hubungan unsur-unsur tersebut.
Tingkah laku manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berbeda-beda seperti pertumbuhan fisik, genetika, sistem otak, kematangan dan karakteristik individu lainnya. Oleh karena itu, para ahli psikologi mencoba menyusun teori psikologi melalui enam pendekatan, yaitu :
• Menghubungkan dan mengintegrasikan hasil-hasil suatu studi dengan hasil studi lannya yang
menggunakan cara dan prosedur yang sama.
• Mensintesiskan penemuan yang saling berhubungandengan cara mempelajari beberapa
model miniatur yang difokuskan pada penelitian proses atau sub proses psikologi.
• Menghubungkan hasil-hasil penemuan dengan teori-teori yang lebih komprehensif agar
diperoleh teori psikologi yang komprehensif pula.Teori psikologi yang komprehensif minimal
termasuk persepsi, kemampuan dan motivasi.
• Mewujudkan kesepakatan untuk membangun satu teori yang diterima bersama sebagai
kerangka dasar untuk mengembangkan teori psikologi yang komprehensif.
• Berdasarkan pendekatan keempat di atas muncul aliran-aliran dan pandangan psikologi yang
berbeda sehingga terjadi persaingan satu sama lainnya, menuju kepada teori psikologi
komprehensif.
• Pendekatan yang berorientasi kepada penelitian psikologi yang terintegrasikan dengan teori
ilmu prilaku manusia seperti Sosiologi, Antropologi, Ekonomi, dsb.
Psikologi terbagi ke dalam dua bagian yaitu psikologi umum (general phsychology) yang mengkaji perilaku pada umumnya dan psikologi khusus yang mengkaji perilaku individu dalam situasi khusus, diantaranya :
• Psikologi Perkembangan; mengkaji perilaku individu yang berada dalam proses perkembangan mulai dari masa konsepsi sampai dengan akhir hayat.
• Psikologi Kepribadian; mengkaji perilaku individu khusus dilihat dari aspek – aspek kepribadiannya.
• Psikologi Klinis; mengkaji perilaku individu untuk keperluan penyembuhan (klinis)
• Psikologi Abnormal; mengkaji perilaku individu yang tergolong abnormal.
• Psikologi Industri; mengkaji perilaku individu dalam kaitannya dengan dunia industri.
• Psikologi Pendidikan; mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikan
Disamping jenis – jenis psikologi yang disebutkan di atas, masih terdapat berbagai jenis psikologi lainnya, bahkan sangat mungkin ke depannya akan semakin terus berkembang, sejalan dengan perkembangan kehidupan yang semakin dinamis dan kompleks. Namun kita akan terfokus membicarakan tentang psikologi pendidikan.
B. PSIKOLOGI PENDIDIKAN
Pengertian pendidikan menurut para ahli adalah :
• Menurut Jhon dewey: Adalah proses pembentukan kecakapan-kecapakan fundamental secara intelektual, emosional kea rah alam manusia.
• Menurut Ruseu: Adalah memberikan pembekalan yang tidak ada pada masa kanak-kanak, akan tetapi dibutuhkan waktu dewasa.
• Menurut Riarkara: Adalah kemanusiaan manusia muda atau pengangkatan manusia muda kea rah insani.
• Menurut Ahmad Manimba: Adalah bimbingan, pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.
Psikologi pendidikan adalah pengetahuan yang mempelajari tingkah laku-tingkah laku yang terjadi dalam proses pendidikan.
1. Faktor-faktor pendidikan
Menurut Sutari Imam Barnadib, ada 4 macam:
• Tujuan yang hendak dicapai
• Subjek (pendidik dan anak didik yang melakukan pendidikan)
• Lingkungan
• Alat-alat tertentu untuk mencapai tujuan.
Tujuan pendidikan nasional dalam UU No. 2, adalah: ” Mencerdaskan pendidikan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa keda Tuhan Yang Maha Esa serta berbudi luhur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki keterampilan, pengetahuan. Kesehatan dan memenuhi rasa tanggung jawab ke masyarakat dan kebangsaan serta membentuk manusia indonesia yang pancasilais utuh (paripurna)”.
a. Tujuan dan peran lembaga pendidikan
Lembaga pendidikan keluarga berfungsi:
• Pengalaman pertama pada kanak-kanak
• Menjamin kehidupan emosional
• Menanamkan dasar-dasar pendidikan dan moral
• Meletakan dasar-dasar keagamaan
Lembaga pendidikan sekolah berfungsi:
• Diselenggarakan secara khusus dan dibagi atas jenjang yang memiliki hubungan hirarkis.
• Usia anak didik di suatu jenjang pendidikan suatu relatif homogen.
• Waktu pendidikan relatof lama sesuai dengan program pendidikan yang harus diselesaikan.
• Materi/visi pendidikan lebih banyak bersifat akademis/umum.
• Adanya penekanan tentang kualitas pendidikan sebagai jawatan terhadap kebutuhan yang akan datang.
Lembaga pendidikan masyarakat
• Diselenggarakan dengan sengaja di sekolah
• Peserta umum, mereka yang tidak sekolah
• Tidak mengenal jenjang dan program pendidikan jangka waktu tertentu
• Peserta tidak perlu homogen
• Ada waktu belajar dan metode formal melalui yang sistematis
• Isi pendidikan bersifat praktis dan khusus
• Keterampilan kerja sangat diketatkan sebagai jawaban terhadap kebutuhan peningkatan tarap hidup.
Didalam berbicara masalah pendidikan didalamnya terdapat perangkat-perangkat yang kompleks salah satunya adalah guru. Guru merupakan komponen yang sangat berperan penting baik dalam hal pendidikan maupun dalam pengajaran. Guru adalah penerus kebudayaan dari segi tugas subjek pendidikan, adalah partisipasi orang tua. Partisipan merupakan peserta lebih tepat dari pembantu. Tekanan tuagasnya ialah membina dan mengisi intelek, meskipun ia juga harus berurusan dengan fungsi lain dari integritas manusia. Guru-guru dengan tugas membina fungsi intelek tidak boleh mengabaikan atau tidak melihat integritas itu.
Tugas Guru adalah memandaikan, menyampaikan ilmu pengetahuan dan kepandaian yang biasa diterima oleh intelek, tapi ia juga harus menjaga supaya pandai/pintar itu tidak semata-mata pintar tetapi ia juga harus menjadi pintar yang baik dan juga berguna.
Guru sebagai kesatuan menjadi lembaga yang umum disebut team guru-guru di dalam sekolah. Team guru-guru adalah lembaga subordinatif dari lembaga sekolah, namun sekolah biasa diidentifikasikan dengan guru-gurunya.
Guru sebagai sutu team amat penting karena team itu sendiri dapat berwibawa mengatasi wibawa oknum guru-gurunya, biarpun direkturnya. Guru-guru harus menjaga wibawa team dan itu memjaga ”image” sekolah dalam pendidikan, bahwa guru mempunyai kebebasan yang besar dalam tugas-tugasnya, sehingga guru-guru itu tidak berfungsi dengan baik.
Para guru memandang teori pioget dapat dipakai sebagai dasar pertimbangan guru dalam menyusun struktur dan urutan mata pelajaran di dalam kurikulum. Hunt (1964) mempraktekan di dalam program pendidikan TK yang menekankan pada perkembangan sensori motoris dan pre-operasional. Poel (1964) di dalam mengajar berhitung.
Dengan memahami psikologi pendidikan, seorang guru melalui pertimbangan – pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat :
1. Merumuskan tujuan pembelajaran secara tepat.
Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan guru akan dapat lebih tepat dalam menentukan bentuk perubahan perilaku yang dikehendaki sebagai tujuan pembelajaran. Misalnya, dengan berusaha mengaplikasikan pemikiran Bloom tentang taksonomi perilaku individu dan mengaitkannya dengan teori-teori perkembangan individu.
2. Memilih strategi atau metode pembelajaran yang sesuai.
Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan guru dapat menentukan strategi atau metode pembelajaran yang tepat dan sesuai, dan mampu mengaitkannya dengan karakteristik dan keunikan individu, jenis belajar dan gaya belajar dan tingkat perkembangan yang sedang dialami siswanya.
3. Memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling.
Tugas dan peran guru, di samping melaksanakan pembelajaran, juga diharapkan dapat membimbing para siswanya. Dengan memahami psikologi pendidikan, tentunya diharapkan guru dapat memberikan bantuan psikologis secara tepat dan benar, melalui proses hubungan interpersonal yang penuh kehangatan dan keakraban.
4. Memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik.
Memfasilitasi artinya berusaha untuk mengembangkan segenap potensi yang dimiliki siswa, seperti bakat, kecerdasan dan minat. Sedangkan memotivasi dapat diartikan berupaya memberikan dorongan kepada siswa untuk melakukan perbuatan tertentu, khususnya perbuatan belajar. Tanpa pemahaman psikologi pendidikan yang memadai, tampaknya guru akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan dirinya sebagai fasilitator maupun motivator belajar siswanya.
5. Menciptakan iklim belajar yang kondusif.
Efektivitas pembelajaran membutuhkan adanya iklim belajar yang kondusif. Guru dengan pemahaman psikologi pendidikan yang memadai memungkinkan untuk dapat menciptakan iklim sosio-emosional yang kondusif di dalam kelas, sehingga siswa dapat belajar dengan nyaman dan menyenangkan.
6, Berinteraksi secara tepat dengan siswanya.
Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan memungkinkan untuk terwujudnya interaksi dengan siswa secara lebih bijak, penuh empati dan menjadi sosok yang menyenangkan di hadapan siswanya.
7. Menilai hasil pembelajaran yang adil.
Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan dapat mambantu guru dalam mengembangkan penilaian pembelajaran siswa yang lebih adil, baik dalam teknis penilaian, pemenuhan prinsip-prinsip penilaian maupun menentukan hasil-hasil penilaian.
Berdasarkan poin lima pada pertimbangan psikologis seorang guru mencakup iklim belajar yang kondusif dan belajar merupakan pra syarat utama dalam proses pendidika itu sendiri
b. pengertian belajar
Belajar adalah suatu proses di dalam kepribadian manusia, perubahan tersebut ditempatkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas.
1. Teori Belajar
Terdapat dua golongan besar dalam jenis teori belajar, yakni golongan behavioristic yaitu teori belajar stimulus-responatau conditioning theories dan golongan gestalt-field atau cognitive-field theories yaitu teori belajar kognitif. Kedua teori belajar ini di samping mempunyai perbedaan bahkan pertentangan juga mempunyai persamaan. Persamaannya terletak dalam hal pandangannya terhadap manusia sama-sama menggunakan pendekatan ilmiah, keduanya melakukan pendekatan psikologi. Sedangkan perbedaannya terletak dalam asumsi mengenai perilaku manusia.
Sedangkan menurut Drs. M. Ngalim Purwanto, MP memberikan definisi belajar dari beberapa elemen:
• Belajar adalah merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku di mana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik tetapi ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang buruk.
• Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau tidak dianggap sebagai hasil belajar seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi.
• Belajar adalah perubahan relatif mantap, harus merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang cukup panjang.
• Belajar merupakan perubahan tingkah laku yang menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis seperti: perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah, berpikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan ataupun sikap.
2. konsep dan makna belajar
Telah dikemukakan diatas bahwa belajar merupakan suatu perubahan dalam diri seseorang yang terjadi karena pengalaman. Menurut C.T. Morgan dalam Introduction to Psycology (1961) merumuskan belajar sebagai “suatu perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku sebagai akibat dari pengalaman yang lalu”. Jadi bisa disimpulkan bahwa belajar sangat erat kaitannya dengan perubahan tingkah laku seseorang. Akan tetapi perubahan yang bukan terjadi karena adanya proses-proses belajar tidak dapat dikatakan sebagai belajar. Perubahan selain belajar antara lain karena adanya proses fisiologis (missal: sakit) dan perubahan terjadi karena adanya proses-proses pematangan (missal : bayi yang mulai dapat berjalan).
Ada dua pandangan mengenai perubahan yang terjadi dalam proses-proses belajar, antara lain :
1. Pandangan Behavioristik
Menurut pandangan ini (seperti J.B. Watson, E.L. Thorndike, dan B.F. Skinner) Belajar adalah perubahan tingkah laku, dengan cara seseorang berbuat pada situasi tertentu. Yang dimaksud tingkah laku disini ialah tingkah laku yang dapat diamati ( berfikir dan emosi tidak menjadi perhatian dalam pandangan ini, karena tidak dapat diamati secara langsung. Diantara keyakinan prinsipil yang terdapat dalam pandangan ini ialah anak lahir tanpa warisan kecerdasan, bakat, persaan, dan warisan abstrak lainnya. Semua kecakapan timbul setelah manusia melakukan kontak dengan lingkungan.
2. Pandangan Kognitif
Menurut Pandangan ini (seperti Jean Piaget, Robert Glaser, John Anderson, Jerome Bruner, dan David Ausubel) Belajar adalah proses internal mental manusia yang tidak dapat diamati secara langasung. Perubahan terjadi dalam kemampuan seseorang untuk bertingkah laku dan berbuat dalam situasi tertentu, perubahan dalam tingkah lauku hanyalah suatu refleksi dari perubahan internal dan tak dapat diukur tanpa dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental. (aspek-aspek yang tidak dapat diamati seperti pengetahuan, arti, perasaan, keinginan, kreatifitas, harapan dan pikiran).
Selain dari pada itu, dewasa ini para neobehaviorist memperluas pandangan behavioristik tentang belajar meliputi aspek-aspek yang tidak dapat diamati secara langsung seperti harapan-harapan, keinginan, keyakinan, dan pikiran. Salah seorang diantaranya ialah albert Bandura (1986) dengan teori kognitif sosial-nya yang menganggap bahwa belajar itu lebih dari sekedar adanya perubahan dalam tingkah laku yang diamati. Belajar adalah pencapaian pengetahuan dan tingkah laku yang dapat diamati yang berdasar pad apengetahuan tersebut. Dalam banyak hal teori ini dapat dianggap sebagai tali penghubung antara aliran behaviorisme dengan teoir kognitif.
Dari berbagai pendapat dan pandangan mengenai definisi belajar terlepas dari berbagai macam kelemahan-kelemahan dari masing pandangan dapat disimpulkan bahwa belajar suatu porses yang terjadi dalam diri seseorang (pandangan kognitif), tetapi juga menekankan pentingnya perubahan dalam tingkah laku yang dapat diamati sebagai pertanda bahwa belajar telah berlangsung (pandangan behavioristik) dengan menunjukkan perubahan yang progresif pada tingkah laku sehinga hasil yang dicapai maksimal.
3. konsep psikologi belajar
Dari uraian tentang psikologi, bahwa psikologi sebagai ilmu pengetahuan berupaya memahami keadaan dan perilaku manusia, sedangkan belajar merupakan kegiatan manusia yang berhubungan dengan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Agar kegiatan belajar tersebut memperoleh hasil yang maksimal sesuai harapan, maka manusia tersebut membutuhkan suatu pemahaman tentang psikologi.
Tujuan dari memperlajari psikologi belajar adalah agar manusia mempunyai pemahaman lebih tentang indivudi, baik dirinya sendiri maupun orang lain serta dari hasil pemahaman tersebut seseorang diharapkan dapat bertindak ataupun memberikan perlakuan yang lebih bijaksana.
c. pembelajaran
Mengapa diperlukan teori pembelajaran?. Disini kita akan memfokuskan aspek dasar dari psikologi yang mana memasukan pengetahuan, pemahaman, perkembangan, kepribadian dan lain lian. Bagi ahli psikologi tekanan pada teori pembelajaran dan dengan penelitian yang utama dari fakta sejarahnya bahwa teori pembelajaran menempati tingkat utama dalam perkembangan ilmu pengetahuan psikologi semenjak awal abad ini dimulai. Memang sejarah dari perkembangan teori pembelajaran ini adalah cabang dari psikologi yang dikenal hamper isomorphic dengan sejarah psikologi sebagai suatu keteraaturan yang terpisah.
Untuk mengetahui dan memahami teori pembelajaran dan untuk dapat mengerti masalah yang timbul di dalam perkembangan teori ini perlun adanya pemahaman yang baik terhadap persoalan utama dalam teori psikologi. Oleh karena itu banyak orang yang melihat dirinya sebagai seorang psikologis atau siapa saja yang berkeinginan menggunakan psikologi untuk beberapa tujuan praktek haruslah paham dengan teori belajar. Ini secara tidak langsung bagi mereka teori belajar dianggap cukup untuk memecahkan masalah penting ketika dilihat dari teori psikologi lain yang terpisah
Salah satu dari tujuan makalah ini adalah untuk memberikan proses dan asas dari gagasan teori belajar dan mengaharapkan pembaca akan mendapat pemahaman teori belajar sebagai salah satu aspek dasar teori ilmu pengetahuan psikologi yang mana terkait dengan pendidikan. Catatan penting bahwa orientasi ada dan sangat mempengaruhi hubungan antara psikologi dan pendidikan.
Ada beberaapa pengertian yang digunakan untuk mendefinisikan kegiatan mengajar. Antara lain :
1. Definisi klasik menyatakan bahwa mengajar diartikan sebagai penyampaian sejumlah pengetahuan karena pandangan yang seperti ini, maka guru dipandang sebagai sumber pengetahuan dan siswa dianggap tidak mengerti apa – apa. Pengertian ini sejalan dengan pandangan Jerome S. Brunner yang berpendapat bahwa mengajar adalah menyajikan ide, problem atau pengetahuan dalam bentuk yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh siswa.
2. Definisi modern menolak Pandangan klasik seperti diatas, oleh sebab itu pandangan tersebut kini mulai ditinggalkan. Orang mulai beralih ke pandangan bahwa mengajar tidaklah sekedar menyampaikan ilmu pengetahuan, melainkan berusaha membuat suatu situasi lingkungan yang memungkinkan siswa untuk belajar. Para ahli pendidikan yang sejalan dengan pendapat tersebut antara lain : Nasution, yang merumuskan bahwa mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik – baiknya dan menghubungkan dengan anak, sehingga terjadilah proses belajar mengajar.
3. Menurut Tyson dan Caroll menyatakan bahwa mengajar adalah sebuah cara dan sebuah proses hubungan timbal balik antara guru dengan siswa yang sama – sama aktif melakukan kegiatan. Sedangkan Tordif berpendapat bahwa mengajar adalah perbuatan yang dilakukan oleh seseorang (guru) dengan tujuan membantu dan memudahkan orang lain (siswa) untuk melakukan kegiatan belajar. Adapun konsep baru tentang mengajar menyatakan bahwa mengajar adalah membina siswa bagaimana belajar, bagaimana berfikir dan bagaimana menyelidiki.
Nasution (1982:8) mengemukakan kegiatan mengajar diartikan sebagai segenap aktivitas kompleks yang dilakukan guru dalam mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar. Dengan demikian proses dan keberhasilan belajar siswa turut ditentukan oleh peran yang dibawakan guru selama interaksi proses belajar mengajar berlangsung. Usman (1994:3) mengemukakan mengajar pada prinsipnya adalah membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar atau mengandung pengertian bahwa mengajar merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan terjadinya proses belajar. Pengertian ini mengandung makna bahwa guru dituntut untuk dapat berperan sebagai organisator kegiatan belajar siswa dan juga hendaknya mampu memanfaatkan lingkungan, baik ada di kelas maupun yang ada di luar kelas, yang menunjang terhadap kegiatan belajar mengajar.
Berdasarkan uraian diatas dapat dipahami bahwa aktivitas yang sangat menonjol dalam pengajaran ada pada siswa. Namun, bukan berarti peran guru tersisihkan, tetapi diubah, kalau guru dianggap sebagai sumber pengetahuan, sehingga guru selalu aktif dan siswa selalu pasif dalam kegiatan belajar mengajar. Guru adalah seorang pemandu dan pendorong agar siswa belajar secara aktif dan kreatif.
Hamalik (2001:44-53) mengemukakan, mengajar dapat diartikan sebagai
• menyampaikan pengetahuan kepada siswa,
• mewariskan kebudayaan kepada generasi muda,
• usaha mengorganisasi lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa,
• memberikan bimbingan belajar kepada murid,
• kegiatan mempersiapkan siswa untuk menjadi warga negara yang baik,
• suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan masyarakat sehari-hari.
Tardif (dalam Adrian, 2004) mendefinisikan, mengajar adalah any action performed by an individual (the teacher) with the intention of facilitating learning in another individual (the learner), yang berarti mengajar adalah perbuatan yang dilakukan seseorang (dalam hal ini pendidik) dengan tujuan membantu atau memudahkan orang lain (dalam hal ini peserta didik) melakukan kegiatan belajar.
Biggs (dalam Adrian, 2004) seorang pakar psikologi membagi konsep mengajar menjadi tiga macam pengertian yaitu
(1) Pengertian Kuantitatif.
Mengajar diartikan sebagai the transmission of knowledge, yakni penularan pengetahuan. Dalam hal ini guru hanya perlu menguasai pengetahuan bidang studinya dan menyampaikan kepada siswa dengan sebaik-baiknya. Masalah berhasil atau tidaknya siswa bukan tanggung jawab pengajar.
(2) Pengertian institusional.
Mengajar berarti the efficient orchestration of teaching skills, yakni penataan segala kemampuan mengajar secara efisien. Dalam hal ini guru dituntut untuk selalu siap mengadaptasikan berbagai teknik mengajar terhadap siswa yang memiliki berbagai macam tipe belajar serta berbeda bakat, kemampuan dan kebutuhannya.
(3) Pengertian kualitatif.
Mengajar diartikan sebagai the facilitation of learning, yaitu upaya membantu memudahkan kegiatan belajar siswa mencari makna dan pemahamannya sendiri. Burton (dalam Sagala, 2003:61) mengemukakan mengajar adalah upaya memberikan stimulus, bimbingan pengarahan, dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar.
Berdasarkan definisi-definisi mengajar dari para pakar di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa mengajar adalah aktivitas kompleks yang dilakukan guru dalam menyampaikan pengetahuan kepada siswa, sehingga terjadi proses belajar.
Aktivitas kompleks yang dimaksud antara lain adalah :
• mengatur kegiatan belajar siswa,
• memanfaatkan lingkungan, baik ada di kelas maupun yang ada di luar kelas, dan
• memberikan stimulus, bimbingan pengarahan, dan dorongan kepada siswa.
Berdasarkan penjelasan dari teori-teori diatas dapat dilihat bahwa belajar dan pembelajaran
1).Teori Pengajaran
Ada Beberapa pendapat yang menyangkut hubungan antara teori belajar dengan teori pengajaran.Berikut ini akan dikemukaan lima pendekatan bagaimana menggunakan teori belajar psikolog dalam menyusun teori pengajaran.
1. Pendekatan Modifikasi Tingkah Laku.
Pendekatan modifikasi tingkah laku telah didefinisikan secara khusus dan diterapkan dalam bidang klinis dan pendidikan.Kaedah –kaedah belajarnya diturunkan dari studi laboratorium proses belajar.Ia mendorong pendidik untuk menggunakan kaedah –kaedah penguatan (reinforcement) dalam mengidentifikasi aspek –aspek penting dalam belajar, dan mengatur kondisi sedemikian rupa agar sisiwa memiliki reward.Di samping itu pendekatan modifikasi tingkah laku prosedur pengajaran terlalu mendorong para sisiwa untuk percaya bahwa selalu ada jawaban yang benar untuk setiap masalah.
2. Pendekatan Teori Belajar Konektif
Teori pengajaran harus berhubungan dengan motivasi sisiwa, menggunakan kaedah –kaedah yang dapat mendorong siswa mau dan mampu belajar bila mereka memasuki situasi belajar mengajar.
3. Pendekatan Kaedah-Kaedah Belajar
Teori pengajaran harus memberikan tekanan kepada perhatian dan respon sisiwa terhadap bahan pengajaran,serta pengetahuan yang dihasilkan sebagai kontrol respon dan ganjaran merupakan cara untuk membimbing perhatian dan tingkah laku sisiwa.
4. Pendekatan Analisis Tugas
Pendekatan ini muncul kaerna ketidak puasan terhadap teori pengajaran berdasarkan kaedah –kaedah belajar laboratoris. Mereka menyatakan bahwa studi belajar psikolog dapat bermanfaat bila menyiapkan suatu cara yang sitematis untuk menganalisis jenis tugas yang ada dalam latihan pratis termasuk dalam praktek pendidikan dan pengjaran.
5. Pendekatan Psikolog Humanistik
Psikolog humanistik dipandang sebagai alternatif baru neobehaviorisme dan psikolog kognitif. Sehingga psikolog harus lebih menangani pribadi keseluruhan (whole person) dari pada analisis bagian –bagian dari semua sub aspek manusia.Sehingga bisa ditentukan agar menunjang proses belajar yang lebih bermakna.Namun teori pengajaran dari psikologi humanistik tidak selesai dan menuntut pengujian secara empiris.
Penjelasan diatas membuktikan bahwa betapa pentingnya psikologi dalam proses belajar dan mengajar maupun dalam dunia pendidikan pada umumnya. Guru dituntut untuk mengetahui aspek-aspek kejiwaaan dari peserta didiknya agar guru dapat menerapkan konsep belajar maupun mengajar yang pas untuk peserta didiknya sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai seperti yang diharapkan.