Latest Entries »

Analisis Korelasi

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Teori Analisi Korelasi.
Dalam teori probabilitas dan statistika, korelasi, juga disebut koefisien korelasi, adalah nilai yang menunjukkan kekuatan dan arah hubungan linier antara dua peubah acak (random variable).
Dengan kata lain analisis korelasi di gunakan untuk mengetahui tentang derajat hubungan antara variable. Jadi, analisi korelasi berhubungan dengan derajat hubungan (seberapa kuat hubungan antara variable-variabel itu terjadi).
Korelasi merupakan teknik analisis yang termasuk dalam salah satu teknik pengukuran asosiasi / hubungan (measures of association). Pengukuran asosiasi merupakan istilah umum yang mengacu pada sekelompok teknik dalam statistik bivariat yang digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel. Diantara sekian banyak teknik-teknik pengukuran asosiasi, terdapat dua teknik korelasi yang sangat populer sampai sekarang, yaitu Korelasi Pearson Product Moment dan Korelasi Rank Spearman. Selain kedua teknik tersebut, terdapat pula teknik-teknik korelasi lain, seperti Kendal, Chi-Square, Phi Coefficient, Goodman-Kruskal, Somer, dan Wilson.
1. Teori Korelasi.
a. Korelasi dan Kausalitas
Ada perbedaan mendasar antara korelasi dan kausalitas. Jika kedua variabel dikatakan berkorelasi, maka kita tergoda untuk mengatakan bahwa variabel yang satu mempengaruhi variabel yang lain atau dengan kata lain terdapat hubungan kausalitas. Kenyataannya belum tentu. Hubungan kausalitas terjadi jika variabel X mempengaruhi Y. Jika kedua variabel diperlakukan secara simetris (nilai pengukuran tetap sama seandainya peranan variabel-variabel tersebut ditukar) maka meski kedua variabel berkorelasi tidak dapat dikatakan mempunyai hubungan kausalitas. Dengan demikian, jika terdapat dua variabel yang berkorelasi, tidak harus terdapat hubungan kausalitas.
Terdapat dictum yang mengatakan “correlation does not imply causation”. Artinya korelasi tidak dapat digunakan secara valid untuk melihat adanya hubungan kausalitas dalam variabel-variabel. Dalam korelasi aspek-aspek yang melandasi terdapatnya hubungan antar variabel mungkin tidak diketahui atau tidak langsung. Oleh karena itu dengan menetapkan korelasi dalam hubungannya dengan variabel-variabel yang diteliti tidak akan memberikan persyaratan yang memadai untuk menetapkan hubungan kausalitas kedalam variabel-variabel tersebut. Sekalipun demikian bukan berarti bahwa korelasi tidak dapat digunakan sebagai indikasi adanya hubungan kausalitas antar variabel. Korelasi dapat digunakan sebagai salah satu bukti adanya kemungkinan terdapatnya hubungan kausalitas tetapi tidak dapat memberikan indikasi hubungan kausalitas seperti apa jika memang itu terjadi dalam variabel-variabel yang diteliti, misalnya model recursive, dimana X mempengaruhi Y atau non-recursive, misalnya X mempengaruhi Y dan Y mempengaruhi X.
Dengan untuk mengidentifikasi hubungan kausalitas tidak dapat begitu saja dilihat dengan kaca mata korelasi tetapi sebaiknya menggunakan model-model yang lebih tepat, misalnya regresi, analisis jalur atau structural equation model.
b. Korelasi dan Linieritas.
Terdapat hubungan erat antara pengertian korelasi dan linieritas. Korelasi Pearson, misalnya, menunjukkan adanya kekuatan hubungan linier dalam dua variabel. Sekalipun demikian jika asumsi normalitas salah maka nilai korelasi tidak akan memadai untuk membuktikan adanya hubungan linieritas. Linieritas artinya asumsi adanya hubungan dalam bentuk garis lurus antara variabel. Linearitas antara dua variabel dapat dinilai melalui observasi scatterplots bivariat. Jika kedua variabel berdistribusi normal dan behubungan secara linier, maka scatterplot berbentuk oval; jika tidak berdistribusi normal scatterplot tidak berbentuk oval.
c. Asumsi
Asumsi dasar korelasi diantaranya seperti tertera di bawah ini:
1) Kedua variabel bersifat independen satu dengan lainnya, artinya masing-masing variabel berdiri sendiri dan tidak tergantung satu dengan lainnya. Tidak ada istilah variabel bebas dan variabel tergantung.
2) Data untuk kedua variabel berdistribusi normal. Data yang mempunyai distribusi normal artinya data yang distribusinya simetris sempurna. Jika digunakan bahasa umum disebut berbentuk kurva bel. Menurut Johnston (2004) ciri-ciri data yang mempunyai distribusi normal ialah sebagai berikut:
a) Kurva frekuensi normal menunjukkan frekuensi tertinggi berada di tengah-tengah, yaitu berada pada rata-rata (mean) nilai distribusi dengan kurva sejajar dan tepat sama pada bagian sisi kiri dan kanannya. Kesimpulannya, nilai yang paling sering muncul dalam distribusi normal ialah rata-rata (average), dengan setengahnya berada dibawah rata-rata dan setengahnya yang lain berada di atas rata-rata.
b) Kurva normal, sering juga disebut sebagai kurva bel, berbentuk simetris sempurna.
c) Karena dua bagian sisi dari tengah-tengah benar-benar simetris, maka frekuensi nilai-nilai diatas rata-rata (mean) akan benar-benar cocok dengan frekuensi nilai-nilai di bawah rata-rata.
d) Frekuensi total semua nilai dalam populasi akan berada dalam area dibawah kurva. Perlu diketahui bahwa area total dibawah kurva mewakili kemungkinan munculnya karakteristik tersebut.
e) Kurva normal dapat mempunyai bentuk yang berbeda-beda. Yang menentukan bentuk-bentuk tersebut adalah nilai rata-rata dan simpangan baku (standard deviation) populasi.
Korelasi bermanfaat untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel (kadang lebih dari dua variabel) dengan skala-skala tertentu, misalnya Pearson data harus berskala interval atau rasio; Spearman dan Kendal menggunakan skala ordinal; Chi Square menggunakan data nominal. Kuat lemah hubungan diukur diantara jarak (range) 0 sampai dengan 1. Korelasi mempunyai kemungkinan pengujian hipotesis dua arah (two tailed). Korelasi searah jika nilai koefesien korelasi diketemukan positif; sebaliknya jika nilai koefesien korelasi negatif, korelasi disebut tidak searah. Yang dimaksud dengan koefesien korelasi ialah suatu pengukuran statistik kovariasi atau asosiasi antara dua variabel. Jika koefesien korelasi diketemukan tidak sama dengan nol (0), maka terdapat ketergantungan antara dua variabel tersebut. Jika koefesien korelasi diketemukan +1. maka hubungan tersebut disebut sebagai korelasi sempurna atau hubungan linear sempurna dengan kemiringan (slope) positif.
Jika koefesien korelasi diketemukan -1. maka hubungan tersebut disebut sebagai korelasi sempurna atau hubungan linear sempurna dengan kemiringan (slope) negatif.
Dalam korelasi sempurna tidak diperlukan lagi pengujian hipotesis, karena kedua variabel mempunyai hubungan linear yang sempurna. Artinya variabel X mempengaruhi variabel Y secara sempurna. Jika korelasi sama dengan nol (0), maka tidak terdapat hubungan antara kedua variabel tersebut.
B. Jeni-jenis Korelasi.
1. Korelasi Product Moment.
Teknik korelasi ini di gunakan untuk mencari hubungan dan membuktikan hipotesis hubungan 2 variabel bila data kedua variable berbentuk interval atau ratio dan sumber data dari dua variable atau lebih tersebuat adalah sama.
Pengukuran ini dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi Product Moment dari Pearson. Teknik ini bertujuan untuk menguji apakah tiap item atau butir pernyataan benar-benar mampu mengungkap faktor yang akan diukur atau konsistensi internal tiap item alat ukur dalam mengukur suatu faktor.
Nilai korelasi yang diperoleh (nilai korelasi per item dengan total item yang diperoleh setelah dikorelasikan secara statistik per individu) lalu dibandingkan dengan tabel nilai korelasi (r) Product Moment untuk mengetahui apakah nilai korelasi yang diperoleh signifikan atau tidak. Jika indeks nilai yang diperoleh dari perhitungan tersebut memiliki nilai yang lebih besar dari nilai table korelasi maka item itu dinyatakan valid demikian juga sebaliknya. Dalam penelitian ini terdapat keterbatasan menguji validitas alat ukur maka yang dilakukan adalah mengukur kesahihan butir (validitas item).
2. Korelasi Ganda.
Menurut Prof. DR. Sugiyono Korelasi ganda merupakan angka yang menunjukkan arah dan kuatnya hubungan antara dua variable independen secara bersama-sama atau lebih dengan satu variable dependen.
korelasi yang terdiri dari dua variabel bebas (X1, X2) serta satu variabel terikat (Y). apabila perumusan masalahnya terdiri dari tiga masalah, maka hubungan antara masing-masing variabel dilakukan dengan cara perhitungan korelasi sederhana, oleh karena itu berikut ini hanya akan dikemukakan cara perhitungan ganda antara X1, dan X2 dengan Y, yang bila dibagankan akan nampak sebagai berikut :
Jadi untuk mendapatkan korelasi ganda maka harus dihitung terlebih dahulu korelasi sederhananya melalui korelasi Product Moment dari Pearson
3. Korelasi parsial.
Menurut Prof. DR. Sugiyono korelasi parsial di gunakan untuk menganalisis bila peneliti bermaksud mengetahui pengaruh atau mengetahui hubungan antara variable independen dan dependen, dimana salah satu variable independenya dibuat tetap/di kendalikan.
Jadi korelasi parsial merupakan angka yang menunjukkan arah dan kuatnya hubungan antara dua variable atau lebih, setelah variable yang diduga dapat mempengaruhi hubungan variable tersebut tetap/dikendalikan.
Korelasi parsial adalah pengukuran hubungan antara dua variabel, dengan mengontrol atau menyesuaikan efek dari satu atau lebih variabel lain. Singkatnya r1234 adalah korelasi antara 1 dan 2, dengan mengendalikan variabel 3 dan 4 dengan asumsi variabel 1 dan 2 berhubungan linier terhadap variabel 3 dan 4. Korelasi parsial dapat digunakan pada banyak kasus, misalnya apakah nilai penjualan suatu komoditi terkait kuat kepada pembelanjaan iklan ketika efek harga dikendalikan. Jika korelasi parsialnya nol, maka dapat disimpulkan bahwa korelasi yang dihitung sebelumnya adalah semu
C. Kreteria Untuk Memilih Instrument.
Suatu pengukuran ialah skor (angka), yang ditentukan atas dasar sutu tes(Biyakto, 1993: 3). Pengukuran adalah suatu alat bantu dalam proses evaluasi dengan berbagai macam alat dan teknik yang dipergunakan untuk mengumpulkan data. Dengan demikian, yang dimaksud dengan pengukuran(measurement) adalah suatu proses untuk memperoleh besaran kuantitatif dari suatu objek tertentu dengan menggunakan alat ukur (test) yang baku (Wahjoedi, 2001: 12).
Dalam proses pengukuran dapat terjadi kekeliruan-kekeliruan. Ada 2 kelompok kekeliruan, yaitu kekeliruan sistematik (berkaitan dengan alat ukur, metode pengukuran, dan faktor manusia) dan kekeliruan acak (berkaitan dengan factor non teknis/sistematik).
Banyak kriteria-kriteria yang harus dipenuhi ketika kita harus memilih dan menentukan instrument yang tepat untuk melakukan pengukuran (baik itu dengan theodolit/theodolite, maupun total station lainnya) dalam sebuah proses atau dalam memilih valve yang tepat untuk kontrol aliran.
Kriteria tersebut yaitu:
 Akurasi: Dalam sebuah alat ukur/alat survey theodolit, akurasi berarti jumlah error yang mungkin terjadi ketika pengukuran sedang dilakukan. Itu berarti seberapa benarnya hasil pengukuran dari nilai aktualnya, dan biasanya digunakan untuk menjelaskan kecocokan alat ukur/ alat survey theodolite itu dalam mengukur nilai besaran yang mau diukur
 Daerah operasi (Range of operation): daerah operasi didefinisikan sebagai batas beroperasinya alat ukur/alat survey maupun juga valve, mulai dari nilai tertinggi sampai terendah dimana alat ukur maupun valve itu tetap dapat bekerja dengan benar dan dapat dijamin kebenarannya.
 Alokasi dana (Budget/Cost): Alokasi dana dalam pemilihan sangat penting juga karena kita harus dapat menentukan dengan yakin dan benar, dimana meskipun semua spesifikasi sudah dipenuhi oleh alat yang akan kita pilih, tetapi banyak factor lain yang harus diperhatikan.
mengidentifikasi empat kriteria biasanya dipertimbangkan dalam memilih dan mengembangkan alat ukur menerapkan konsep validitas, reliabilitas, dan administrability dalam memilih dan mengembangkan instrumen dalam pendidikan fisik mengidentifikasi tiga jenis norrms.
mengevaluasi perilaku mahasiswa di pendidikan Fisik bahwa instrumen ukur yang tepat diseleksi dan hasil developed.The dari pengukuran diambil server berbagai tujuan. Prestasi untuk menunjukkan kemajuan menuju tujuan mahasiswa, ini mungkin diukur untuk memperkirakan keberhasilan potensial di mengandung kegiatan, tes elektrokardiogram dapat administrability untuk melacak gelombang jantung selama latihan, dan appraisal indeks motivasional mungkin bermanfaat untuk pelatih dalam adalah Ekuivalen tingkat kinerja atlet. Tanpa menggunakan atribut atau properti apa yang sedang diukur harus terbuat dari hasil, semua berbagai exedures digunakan dalam program pengukuran harus posting tertentu penting karakteristik, yang dapat kelas bawah judul validitas, reliabilitas, dan administrability. Norma juga mungkin berharga dalam memilih alat ukur, tapi mereka busur tidak penting. karena mereka dapat dihitung setelah ujian telah diberikan. pertimbangan yang paling penting dalam instrumen pengukuran sejauh mana untuk mengukur apa itu metoded untuk mengukur.
Faktor ini disebut validitas. memiliki tingkat validitas tinggi, tes juga harus memiliki sampai tingkat tinggi reliaibility, yang mengacu pada konsistensi gol. Jika skor serupa yang diperoleh oleh minyak individu yang sama dalam tes yang sama pada waktu yang berbeda, menguji reasesses tingkat kehandalan yang tinggi (dependabilily).
administrability berurusan dengan pertimbangan praktis terlibat dalam memilih instrumen memuaskan (misalnya, kemudahan dari administrasi, waktu yang diperlukan, urutan pengujian, ketersediaan fasilitas dan peralatan, dan biaya). Norma, yang diinginkan tetapi tidak perlu, menunjukkan kinerja normal atau khas dari kelompok referensi pada alat pengukur. Mengukur instrumen dapat digunakan untuk menentukan atribut dari individu. Pada kali, atribut bisa begitu komprehensif dan kompleks yang mungkin sulit dilakukan di kelas pendidikan jasmani untuk mengukur setiap aspek. Dalam hal ini, instruktur dapat memilih sampel kinerja keterampilan yang mewakili atribut. Sampel ini biasanya berkembang menjadi suatu jenis alat ukur yang dapat digunakan di kelas; dari hasil, kesimpulan tentang atribut dapat digambarkan. Misalkan tujuannya adalah untuk siswa untuk mengembangkan kemampuan kinerja motor diperlukan untuk bermain golf. Untuk melakukannya siswa harus mampu melakukan berbagai keterampilan golf, seperti stroke, menggunakan setiap dari hutan (dari tee, fairway, dan kasar), setiap besi (dari tee, fairway, kasar, dan perangkap pasir), chipping (dari fairway kasar, dan. perangkap pasir), dan meletakkan (dari berbagai pesawat). Untuk mengukur kemampuan kas Apakah mungkin memerlukan waktu kelas ekstensif. Instruktur dapat memilih salah satu to tiga keterampilan kinerja sebagai wakil keterampilan kinerja yang diperlukan untuk bermain golf. Sampel pertunjukan assence estimasi kemampuan siswa untuk bermain golf, dan ini ilia kemampuan), disimpulkan dari hasil instrumen measurinng. yang appropriatesness dari kesimpulan dapat ditentukan melalui studi validitas yang menjawab pertanyaan, seberapa baik melakukan alat ukur yang dipilih merupakan kriteria yang harus diselesaikan?
1. Keabsahan
alat ukur ini berlaku untuk deggre bahwa langkah-langkah apa yang dimaksudkan untuk mengukur. ini kriteria tes yang baik mungkin kurang jelas dari yang pertama muncul. misalnya, beberapa pendidik fisik dapat menggunakan tes kinerja secara umum fisik yang mungkin termasuk pull up, jalankan mil dan duduk untuk memperkirakan seberapa baik siswa akan tampil di kelas basket, tapi tes jauh lebih efektif mungkin beberapa jenis keterampilan basket pengujian atau skala penilaian basket. lebih jelas, kita tidak akan menggunakan tes tertulis pada aturan bulutangkis untuk menilai kemampuan bermain bulutangkis dalam situasi permainan single. bukan, orang mungkin keterampilan seperti pendek dan panjang yang jelas server dan tinggi, drop, dan penempatan menghancurkan.
Keabsahan adalah tanpa pertanyaan kriteria yang paling penting dari sebuah alat ukur. tanpa nilai dan kegunaan dari hilang. stopwatch tidak berguna ketika mengukur jarak sebuah lompatan individu, dan tes keterampilan sepak bola memiliki nilai yang kecil dalam menentukan kemampuan berenang. Namun, stopwatch berlaku untuk mengukur waktu untuk berjalan 100 meter, dan memilih tes keterampilan sepak bola mungkin memiliki nilai ketika menentukan kemampuan bermain sepak bola untuk posisi tertentu.
Validitas selalu spesifik untuk penggunaan tertentu. Meskipun sepak bola melewati ujian keterampilan mungkin memiliki jika gelar tinggi validitas untuk menentukan kemampuan individu untuk skor lewat bola, ia memiliki derajat yang sangat rendah validitas untuk menganalisis kemampuan untuk kemampuan untuk menjadi itu seperempat kembali dalam situasi permainan, posisi yang membutuhkan keterampilan dan pengetahuan lain selain lewat. Validitas juga harus berlaku untuk kelompok tertentu. tes mungkin memiliki tingkat validitas yang tinggi bagi siswa maju tapi tidak untuk pemula. tes tenis memerlukan siswa untuk memukul bola yang didorong dari mesin bola tenis ke daerah tertentu mungkin memiliki tingkat validitas yang tinggi untuk pemain maju yang terbiasa dengan kecepatan tinggi bola dan berpengalaman dalam menempatkannya di daerah tertentu , Sedangkan pemula mungkin tidak dapat untuk mencetak sebuah titik pada tes.
validitas bertanya, apa benar dapat disimpulkan dari alat ukur? pertanyaan ini merujuk pada sifat intrinsik alat ukur. pengukuran dapat berupa tes keterampilan kinerja tertentu dari domain motor atau tes pengetahuan dari melakukan kognitif. perhatian adalah untuk mencapai beberapa kesimpulan tentang bagaimana curately skor merupakan keterampilan atau pengetahuan.
Diduga bahwa validitas adalah guru harus di bawah berat badan. Validitas suatu alat ukur tertentu. Instrumen validitas tergantung pada jenis instrumen desirec kesimpulan skor pengukuran. Standar untuk tes internasional dan psikologis (psikologis asosiasi american, 1974) menunjukkan bahwa ada metode umum saling bergantung empat interpendent inferensial dalam mengestimasi validitas: validitas kriteria terkait, metode independen kami memperkirakan validitas mereka saling terkait. Sangat sering lebih dari satu metode dalam mengembangkan instrumen pengukuran. Sebuah konten analisis Anda mungkin akan selesai untuk menentukan tes yang akan dimasukkan dalam pemeriksaan, hasil analisis kami akhirnya dapat digunakan dalam studi prediksi Anda untuk memperkirakan kinerja masa datang.

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Psikologi dewasa ini semakin menjadi bagian yang sangat sentral pada ilmu pengetahuan dan khususnya dalam dunia pendidikan. Dengan psikologi manusia dapat mempelajari setiap gejala yang terjadi baik itu didalam masyarakat maupun individu pada khususnya. Dalam psikologi terdapat banyak bagian yang terkandung didalamnya salah satunya adalah cabang keilmuan psikologi pendidikan yang banyak berkaitan dengan pendidikan dan didalam pendidikan itu terdapat banyak konsep ilmu diantaranya belajar dan mengajar.
Hakekat kejiwaan manusia terwujud dengan adanya kekuatan-kekuatan serta aktifitas-aktifitas kejiawaan dalam diri manusia, yang semua itu menghasilkan tingkah laku yang lebih sempurna dari pada makhluk lain. Tanpa disadari manusia secara tidak langsung telah melakukan suatu perubahan dimana perubahan tersebut terbentuk dari tidak bisa menjadi biasa, tidak tahu menjadi tahu dan seterusnya hingga manusia tersebut menjadi manusia sempurna (insan kamil).
Belajar bukanlah kegiatan yang hanya berlangsung di dalam kelas saja, tetapi juga berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Belajar tidak hanya melibatkan yang benar saja, tetapi juga melibatkan yang tidak benar, missal ada murid yang salah mengeja kata, kita tidak dapat mengatakan bahwa tidak belajar, hanya saja dia mengeja yang salah. Jadi belajar tidaklah selalu dalam hal pengetahuan atau keterampilan, tetapi juga dapat berkenaan dengan sikap, tingkah laku, kejiwaan dan perasaan.
Unsur asasi dari belajar adalah selalu melibatkan adanya perubahan dalam diri orang yang belajar. Perubahan itu bisa terjadi dengan sengaja bisa lebih baik bisa lebih buruk. Agar berkualitas sebagai belajar, perubahan itu harus dilahirkan oleh pengalaman, oleh interaksi antar orang dengan lingkungannya. Untuk itu dalam makalah ini kami menguraikan tentang definisi belajar, definisi psikologi serta konsep dan makna psikologi belajar.
Lain halnya dengan mengajar, mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab moral yang cukup berat. Berhasilnya pendidikan pada siswa sangat bergantung pada pertanggungjawaban guru dalam melaksanakan tugasnya. Zamroni (2000:74) mengatakan “guru adalah kreator proses belajar mengajar”. Ia adalah orang yang akan mengembangkan suasana bebas bagi siswa untuk mengkaji apa yang menarik minatnya, mengekspresikan ide-ide dan kreativitasnya dalam batas-batas norma-norma yang ditegakkan secara konsisten. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa orientasi pengajaran dalam konteks belajar mengajar diarahkan untuk pengembangan aktivitas siswa dalam belajar.
Meliat dari semua pernyataan diatas maka penulis ingin mengkaji lebih jauh lagi tentang bagaimana peran psikologi dalam pendidikan dan khususnya dalam pembelajaran.
B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang kami angkat dalam makalah ini adalah :
 Pengertian psikologi secara umum
 Bagaimana psikologi sebagai ilmu
 Apa itu psikologi pendidikan
 Pengertian belajar
 Apa yang dimaksud pembelajaran
C. TUJUAN
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah :
 Untuk mengetahui peran psikologi dalam proses belajar dan pembelajaran.
 Untuk mengetahui pengertian psikologi secara umum
 Untuk mengetahui peran psikologi sebagai ilmu
 Untuk mengetahui psikologi pendidikan
 Untuk mengetahui pengertian belajar
BAB II
PEMBAHASAN
Sebelum kita membahas lebih jauh ada baiknya kita mengkaji satu persatu dari pokok pembahasan kita kali ini yang mana terkait dengan psikologi, pendidikan, belajar maupun mengajar
A. PENGERTIAN PSIKOLOGI
Psikologi merupakan cabang ilmu yang mempunyai peran yang sangat penting dalam ilmu pengetahuan dan merupakan cabang ilmu pengetahuan yang tergolong muda, psikologi memiliki pengertian sebagai berikut
Secara etimologis, psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup, dan “logos” atau ilmu. Dilihat dari arti kata terseJbut seolah-olah psikologi merupakan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Jika kita mengacu pada salah satu syarat ilmu yakni adanya obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat jika kita mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa, karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa diamati secara langsung atau psikologi adalah ilmu yang mempelajari gejala-gejala kejiwaan yang dapat dilihat melalui tingkah laku.
Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mungkin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yakni dalam bentuk perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demikian, psikologi kiranya dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
a. psikologi sebagai ilmu
Psikologi sebagai ilmu dimulai pada tahun 1879, sewaktu Wilhelm wundt mendirikan laboratorium psikologi di kota Leipzig Jerman. Wundt seorang ahli filsafat, ahli faal dan psikologi. Ia mulai mengadakn penelitian-penelitian psikologi melalui percobaannya mengenai pikiran atau akal manusia.
Psikologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah memiliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni :
• Ontologis; obyek dari psikologi pendidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, orang tua peserta didik dan masyarakat pendidikan.
• Epistemologis; teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdasarkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun studi cross sectional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif.
• Aksiologis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapaian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan.
Tiga masalah yang menjadi pusat perhatian penelitiannya yaitu :
• Proses kesadaran serta unsur-unsur yang membentuknya,
• Cara unsur-unsur itu saling berhubungan, dan
• Menentukan hukum atau aturan dari hubungan unsur-unsur tersebut.
Tingkah laku manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berbeda-beda seperti pertumbuhan fisik, genetika, sistem otak, kematangan dan karakteristik individu lainnya. Oleh karena itu, para ahli psikologi mencoba menyusun teori psikologi melalui enam pendekatan, yaitu :
• Menghubungkan dan mengintegrasikan hasil-hasil suatu studi dengan hasil studi lannya yang
menggunakan cara dan prosedur yang sama.
• Mensintesiskan penemuan yang saling berhubungandengan cara mempelajari beberapa
model miniatur yang difokuskan pada penelitian proses atau sub proses psikologi.
• Menghubungkan hasil-hasil penemuan dengan teori-teori yang lebih komprehensif agar
diperoleh teori psikologi yang komprehensif pula.Teori psikologi yang komprehensif minimal
termasuk persepsi, kemampuan dan motivasi.
• Mewujudkan kesepakatan untuk membangun satu teori yang diterima bersama sebagai
kerangka dasar untuk mengembangkan teori psikologi yang komprehensif.
• Berdasarkan pendekatan keempat di atas muncul aliran-aliran dan pandangan psikologi yang
berbeda sehingga terjadi persaingan satu sama lainnya, menuju kepada teori psikologi
komprehensif.
• Pendekatan yang berorientasi kepada penelitian psikologi yang terintegrasikan dengan teori
ilmu prilaku manusia seperti Sosiologi, Antropologi, Ekonomi, dsb.
Psikologi terbagi ke dalam dua bagian yaitu psikologi umum (general phsychology) yang mengkaji perilaku pada umumnya dan psikologi khusus yang mengkaji perilaku individu dalam situasi khusus, diantaranya :
• Psikologi Perkembangan; mengkaji perilaku individu yang berada dalam proses perkembangan mulai dari masa konsepsi sampai dengan akhir hayat.
• Psikologi Kepribadian; mengkaji perilaku individu khusus dilihat dari aspek – aspek kepribadiannya.
• Psikologi Klinis; mengkaji perilaku individu untuk keperluan penyembuhan (klinis)
• Psikologi Abnormal; mengkaji perilaku individu yang tergolong abnormal.
• Psikologi Industri; mengkaji perilaku individu dalam kaitannya dengan dunia industri.
• Psikologi Pendidikan; mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikan
Disamping jenis – jenis psikologi yang disebutkan di atas, masih terdapat berbagai jenis psikologi lainnya, bahkan sangat mungkin ke depannya akan semakin terus berkembang, sejalan dengan perkembangan kehidupan yang semakin dinamis dan kompleks. Namun kita akan terfokus membicarakan tentang psikologi pendidikan.
B. PSIKOLOGI PENDIDIKAN
Pengertian pendidikan menurut para ahli adalah :
• Menurut Jhon dewey: Adalah proses pembentukan kecakapan-kecapakan fundamental secara intelektual, emosional kea rah alam manusia.
• Menurut Ruseu: Adalah memberikan pembekalan yang tidak ada pada masa kanak-kanak, akan tetapi dibutuhkan waktu dewasa.
• Menurut Riarkara: Adalah kemanusiaan manusia muda atau pengangkatan manusia muda kea rah insani.
• Menurut Ahmad Manimba: Adalah bimbingan, pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.
Psikologi pendidikan adalah pengetahuan yang mempelajari tingkah laku-tingkah laku yang terjadi dalam proses pendidikan.
1. Faktor-faktor pendidikan
Menurut Sutari Imam Barnadib, ada 4 macam:
• Tujuan yang hendak dicapai
• Subjek (pendidik dan anak didik yang melakukan pendidikan)
• Lingkungan
• Alat-alat tertentu untuk mencapai tujuan.
Tujuan pendidikan nasional dalam UU No. 2, adalah: ” Mencerdaskan pendidikan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa keda Tuhan Yang Maha Esa serta berbudi luhur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki keterampilan, pengetahuan. Kesehatan dan memenuhi rasa tanggung jawab ke masyarakat dan kebangsaan serta membentuk manusia indonesia yang pancasilais utuh (paripurna)”.
a. Tujuan dan peran lembaga pendidikan
Lembaga pendidikan keluarga berfungsi:
• Pengalaman pertama pada kanak-kanak
• Menjamin kehidupan emosional
• Menanamkan dasar-dasar pendidikan dan moral
• Meletakan dasar-dasar keagamaan
Lembaga pendidikan sekolah berfungsi:
• Diselenggarakan secara khusus dan dibagi atas jenjang yang memiliki hubungan hirarkis.
• Usia anak didik di suatu jenjang pendidikan suatu relatif homogen.
• Waktu pendidikan relatof lama sesuai dengan program pendidikan yang harus diselesaikan.
• Materi/visi pendidikan lebih banyak bersifat akademis/umum.
• Adanya penekanan tentang kualitas pendidikan sebagai jawatan terhadap kebutuhan yang akan datang.
Lembaga pendidikan masyarakat
• Diselenggarakan dengan sengaja di sekolah
• Peserta umum, mereka yang tidak sekolah
• Tidak mengenal jenjang dan program pendidikan jangka waktu tertentu
• Peserta tidak perlu homogen
• Ada waktu belajar dan metode formal melalui yang sistematis
• Isi pendidikan bersifat praktis dan khusus
• Keterampilan kerja sangat diketatkan sebagai jawaban terhadap kebutuhan peningkatan tarap hidup.
Didalam berbicara masalah pendidikan didalamnya terdapat perangkat-perangkat yang kompleks salah satunya adalah guru. Guru merupakan komponen yang sangat berperan penting baik dalam hal pendidikan maupun dalam pengajaran. Guru adalah penerus kebudayaan dari segi tugas subjek pendidikan, adalah partisipasi orang tua. Partisipan merupakan peserta lebih tepat dari pembantu. Tekanan tuagasnya ialah membina dan mengisi intelek, meskipun ia juga harus berurusan dengan fungsi lain dari integritas manusia. Guru-guru dengan tugas membina fungsi intelek tidak boleh mengabaikan atau tidak melihat integritas itu.
Tugas Guru adalah memandaikan, menyampaikan ilmu pengetahuan dan kepandaian yang biasa diterima oleh intelek, tapi ia juga harus menjaga supaya pandai/pintar itu tidak semata-mata pintar tetapi ia juga harus menjadi pintar yang baik dan juga berguna.
Guru sebagai kesatuan menjadi lembaga yang umum disebut team guru-guru di dalam sekolah. Team guru-guru adalah lembaga subordinatif dari lembaga sekolah, namun sekolah biasa diidentifikasikan dengan guru-gurunya.
Guru sebagai sutu team amat penting karena team itu sendiri dapat berwibawa mengatasi wibawa oknum guru-gurunya, biarpun direkturnya. Guru-guru harus menjaga wibawa team dan itu memjaga ”image” sekolah dalam pendidikan, bahwa guru mempunyai kebebasan yang besar dalam tugas-tugasnya, sehingga guru-guru itu tidak berfungsi dengan baik.
Para guru memandang teori pioget dapat dipakai sebagai dasar pertimbangan guru dalam menyusun struktur dan urutan mata pelajaran di dalam kurikulum. Hunt (1964) mempraktekan di dalam program pendidikan TK yang menekankan pada perkembangan sensori motoris dan pre-operasional. Poel (1964) di dalam mengajar berhitung.
Dengan memahami psikologi pendidikan, seorang guru melalui pertimbangan – pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat :
1. Merumuskan tujuan pembelajaran secara tepat.
Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan guru akan dapat lebih tepat dalam menentukan bentuk perubahan perilaku yang dikehendaki sebagai tujuan pembelajaran. Misalnya, dengan berusaha mengaplikasikan pemikiran Bloom tentang taksonomi perilaku individu dan mengaitkannya dengan teori-teori perkembangan individu.
2. Memilih strategi atau metode pembelajaran yang sesuai.
Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan guru dapat menentukan strategi atau metode pembelajaran yang tepat dan sesuai, dan mampu mengaitkannya dengan karakteristik dan keunikan individu, jenis belajar dan gaya belajar dan tingkat perkembangan yang sedang dialami siswanya.
3. Memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling.
Tugas dan peran guru, di samping melaksanakan pembelajaran, juga diharapkan dapat membimbing para siswanya. Dengan memahami psikologi pendidikan, tentunya diharapkan guru dapat memberikan bantuan psikologis secara tepat dan benar, melalui proses hubungan interpersonal yang penuh kehangatan dan keakraban.
4. Memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik.
Memfasilitasi artinya berusaha untuk mengembangkan segenap potensi yang dimiliki siswa, seperti bakat, kecerdasan dan minat. Sedangkan memotivasi dapat diartikan berupaya memberikan dorongan kepada siswa untuk melakukan perbuatan tertentu, khususnya perbuatan belajar. Tanpa pemahaman psikologi pendidikan yang memadai, tampaknya guru akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan dirinya sebagai fasilitator maupun motivator belajar siswanya.
5. Menciptakan iklim belajar yang kondusif.
Efektivitas pembelajaran membutuhkan adanya iklim belajar yang kondusif. Guru dengan pemahaman psikologi pendidikan yang memadai memungkinkan untuk dapat menciptakan iklim sosio-emosional yang kondusif di dalam kelas, sehingga siswa dapat belajar dengan nyaman dan menyenangkan.
6, Berinteraksi secara tepat dengan siswanya.
Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan memungkinkan untuk terwujudnya interaksi dengan siswa secara lebih bijak, penuh empati dan menjadi sosok yang menyenangkan di hadapan siswanya.
7. Menilai hasil pembelajaran yang adil.
Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan dapat mambantu guru dalam mengembangkan penilaian pembelajaran siswa yang lebih adil, baik dalam teknis penilaian, pemenuhan prinsip-prinsip penilaian maupun menentukan hasil-hasil penilaian.
Berdasarkan poin lima pada pertimbangan psikologis seorang guru mencakup iklim belajar yang kondusif dan belajar merupakan pra syarat utama dalam proses pendidika itu sendiri
b. pengertian belajar
Belajar adalah suatu proses di dalam kepribadian manusia, perubahan tersebut ditempatkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas.
1. Teori Belajar
Terdapat dua golongan besar dalam jenis teori belajar, yakni golongan behavioristic yaitu teori belajar stimulus-responatau conditioning theories dan golongan gestalt-field atau cognitive-field theories yaitu teori belajar kognitif. Kedua teori belajar ini di samping mempunyai perbedaan bahkan pertentangan juga mempunyai persamaan. Persamaannya terletak dalam hal pandangannya terhadap manusia sama-sama menggunakan pendekatan ilmiah, keduanya melakukan pendekatan psikologi. Sedangkan perbedaannya terletak dalam asumsi mengenai perilaku manusia.
Sedangkan menurut Drs. M. Ngalim Purwanto, MP memberikan definisi belajar dari beberapa elemen:
• Belajar adalah merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku di mana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik tetapi ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang buruk.
• Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau tidak dianggap sebagai hasil belajar seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi.
• Belajar adalah perubahan relatif mantap, harus merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang cukup panjang.
• Belajar merupakan perubahan tingkah laku yang menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis seperti: perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah, berpikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan ataupun sikap.
2. konsep dan makna belajar
Telah dikemukakan diatas bahwa belajar merupakan suatu perubahan dalam diri seseorang yang terjadi karena pengalaman. Menurut C.T. Morgan dalam Introduction to Psycology (1961) merumuskan belajar sebagai “suatu perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku sebagai akibat dari pengalaman yang lalu”. Jadi bisa disimpulkan bahwa belajar sangat erat kaitannya dengan perubahan tingkah laku seseorang. Akan tetapi perubahan yang bukan terjadi karena adanya proses-proses belajar tidak dapat dikatakan sebagai belajar. Perubahan selain belajar antara lain karena adanya proses fisiologis (missal: sakit) dan perubahan terjadi karena adanya proses-proses pematangan (missal : bayi yang mulai dapat berjalan).
Ada dua pandangan mengenai perubahan yang terjadi dalam proses-proses belajar, antara lain :
1. Pandangan Behavioristik
Menurut pandangan ini (seperti J.B. Watson, E.L. Thorndike, dan B.F. Skinner) Belajar adalah perubahan tingkah laku, dengan cara seseorang berbuat pada situasi tertentu. Yang dimaksud tingkah laku disini ialah tingkah laku yang dapat diamati ( berfikir dan emosi tidak menjadi perhatian dalam pandangan ini, karena tidak dapat diamati secara langsung. Diantara keyakinan prinsipil yang terdapat dalam pandangan ini ialah anak lahir tanpa warisan kecerdasan, bakat, persaan, dan warisan abstrak lainnya. Semua kecakapan timbul setelah manusia melakukan kontak dengan lingkungan.
2. Pandangan Kognitif
Menurut Pandangan ini (seperti Jean Piaget, Robert Glaser, John Anderson, Jerome Bruner, dan David Ausubel) Belajar adalah proses internal mental manusia yang tidak dapat diamati secara langasung. Perubahan terjadi dalam kemampuan seseorang untuk bertingkah laku dan berbuat dalam situasi tertentu, perubahan dalam tingkah lauku hanyalah suatu refleksi dari perubahan internal dan tak dapat diukur tanpa dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental. (aspek-aspek yang tidak dapat diamati seperti pengetahuan, arti, perasaan, keinginan, kreatifitas, harapan dan pikiran).
Selain dari pada itu, dewasa ini para neobehaviorist memperluas pandangan behavioristik tentang belajar meliputi aspek-aspek yang tidak dapat diamati secara langsung seperti harapan-harapan, keinginan, keyakinan, dan pikiran. Salah seorang diantaranya ialah albert Bandura (1986) dengan teori kognitif sosial-nya yang menganggap bahwa belajar itu lebih dari sekedar adanya perubahan dalam tingkah laku yang diamati. Belajar adalah pencapaian pengetahuan dan tingkah laku yang dapat diamati yang berdasar pad apengetahuan tersebut. Dalam banyak hal teori ini dapat dianggap sebagai tali penghubung antara aliran behaviorisme dengan teoir kognitif.
Dari berbagai pendapat dan pandangan mengenai definisi belajar terlepas dari berbagai macam kelemahan-kelemahan dari masing pandangan dapat disimpulkan bahwa belajar suatu porses yang terjadi dalam diri seseorang (pandangan kognitif), tetapi juga menekankan pentingnya perubahan dalam tingkah laku yang dapat diamati sebagai pertanda bahwa belajar telah berlangsung (pandangan behavioristik) dengan menunjukkan perubahan yang progresif pada tingkah laku sehinga hasil yang dicapai maksimal.
3. konsep psikologi belajar
Dari uraian tentang psikologi, bahwa psikologi sebagai ilmu pengetahuan berupaya memahami keadaan dan perilaku manusia, sedangkan belajar merupakan kegiatan manusia yang berhubungan dengan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Agar kegiatan belajar tersebut memperoleh hasil yang maksimal sesuai harapan, maka manusia tersebut membutuhkan suatu pemahaman tentang psikologi.
Tujuan dari memperlajari psikologi belajar adalah agar manusia mempunyai pemahaman lebih tentang indivudi, baik dirinya sendiri maupun orang lain serta dari hasil pemahaman tersebut seseorang diharapkan dapat bertindak ataupun memberikan perlakuan yang lebih bijaksana.
c. pembelajaran
Mengapa diperlukan teori pembelajaran?. Disini kita akan memfokuskan aspek dasar dari psikologi yang mana memasukan pengetahuan, pemahaman, perkembangan, kepribadian dan lain lian. Bagi ahli psikologi tekanan pada teori pembelajaran dan dengan penelitian yang utama dari fakta sejarahnya bahwa teori pembelajaran menempati tingkat utama dalam perkembangan ilmu pengetahuan psikologi semenjak awal abad ini dimulai. Memang sejarah dari perkembangan teori pembelajaran ini adalah cabang dari psikologi yang dikenal hamper isomorphic dengan sejarah psikologi sebagai suatu keteraaturan yang terpisah.
Untuk mengetahui dan memahami teori pembelajaran dan untuk dapat mengerti masalah yang timbul di dalam perkembangan teori ini perlun adanya pemahaman yang baik terhadap persoalan utama dalam teori psikologi. Oleh karena itu banyak orang yang melihat dirinya sebagai seorang psikologis atau siapa saja yang berkeinginan menggunakan psikologi untuk beberapa tujuan praktek haruslah paham dengan teori belajar. Ini secara tidak langsung bagi mereka teori belajar dianggap cukup untuk memecahkan masalah penting ketika dilihat dari teori psikologi lain yang terpisah
Salah satu dari tujuan makalah ini adalah untuk memberikan proses dan asas dari gagasan teori belajar dan mengaharapkan pembaca akan mendapat pemahaman teori belajar sebagai salah satu aspek dasar teori ilmu pengetahuan psikologi yang mana terkait dengan pendidikan. Catatan penting bahwa orientasi ada dan sangat mempengaruhi hubungan antara psikologi dan pendidikan.
Ada beberaapa pengertian yang digunakan untuk mendefinisikan kegiatan mengajar. Antara lain :
1. Definisi klasik menyatakan bahwa mengajar diartikan sebagai penyampaian sejumlah pengetahuan karena pandangan yang seperti ini, maka guru dipandang sebagai sumber pengetahuan dan siswa dianggap tidak mengerti apa – apa. Pengertian ini sejalan dengan pandangan Jerome S. Brunner yang berpendapat bahwa mengajar adalah menyajikan ide, problem atau pengetahuan dalam bentuk yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh siswa.
2. Definisi modern menolak Pandangan klasik seperti diatas, oleh sebab itu pandangan tersebut kini mulai ditinggalkan. Orang mulai beralih ke pandangan bahwa mengajar tidaklah sekedar menyampaikan ilmu pengetahuan, melainkan berusaha membuat suatu situasi lingkungan yang memungkinkan siswa untuk belajar. Para ahli pendidikan yang sejalan dengan pendapat tersebut antara lain : Nasution, yang merumuskan bahwa mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik – baiknya dan menghubungkan dengan anak, sehingga terjadilah proses belajar mengajar.
3. Menurut Tyson dan Caroll menyatakan bahwa mengajar adalah sebuah cara dan sebuah proses hubungan timbal balik antara guru dengan siswa yang sama – sama aktif melakukan kegiatan. Sedangkan Tordif berpendapat bahwa mengajar adalah perbuatan yang dilakukan oleh seseorang (guru) dengan tujuan membantu dan memudahkan orang lain (siswa) untuk melakukan kegiatan belajar. Adapun konsep baru tentang mengajar menyatakan bahwa mengajar adalah membina siswa bagaimana belajar, bagaimana berfikir dan bagaimana menyelidiki.
Nasution (1982:8) mengemukakan kegiatan mengajar diartikan sebagai segenap aktivitas kompleks yang dilakukan guru dalam mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar. Dengan demikian proses dan keberhasilan belajar siswa turut ditentukan oleh peran yang dibawakan guru selama interaksi proses belajar mengajar berlangsung. Usman (1994:3) mengemukakan mengajar pada prinsipnya adalah membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar atau mengandung pengertian bahwa mengajar merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan terjadinya proses belajar. Pengertian ini mengandung makna bahwa guru dituntut untuk dapat berperan sebagai organisator kegiatan belajar siswa dan juga hendaknya mampu memanfaatkan lingkungan, baik ada di kelas maupun yang ada di luar kelas, yang menunjang terhadap kegiatan belajar mengajar.
Berdasarkan uraian diatas dapat dipahami bahwa aktivitas yang sangat menonjol dalam pengajaran ada pada siswa. Namun, bukan berarti peran guru tersisihkan, tetapi diubah, kalau guru dianggap sebagai sumber pengetahuan, sehingga guru selalu aktif dan siswa selalu pasif dalam kegiatan belajar mengajar. Guru adalah seorang pemandu dan pendorong agar siswa belajar secara aktif dan kreatif.
Hamalik (2001:44-53) mengemukakan, mengajar dapat diartikan sebagai
• menyampaikan pengetahuan kepada siswa,
• mewariskan kebudayaan kepada generasi muda,
• usaha mengorganisasi lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa,
• memberikan bimbingan belajar kepada murid,
• kegiatan mempersiapkan siswa untuk menjadi warga negara yang baik,
• suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan masyarakat sehari-hari.
Tardif (dalam Adrian, 2004) mendefinisikan, mengajar adalah any action performed by an individual (the teacher) with the intention of facilitating learning in another individual (the learner), yang berarti mengajar adalah perbuatan yang dilakukan seseorang (dalam hal ini pendidik) dengan tujuan membantu atau memudahkan orang lain (dalam hal ini peserta didik) melakukan kegiatan belajar.
Biggs (dalam Adrian, 2004) seorang pakar psikologi membagi konsep mengajar menjadi tiga macam pengertian yaitu
(1) Pengertian Kuantitatif.
Mengajar diartikan sebagai the transmission of knowledge, yakni penularan pengetahuan. Dalam hal ini guru hanya perlu menguasai pengetahuan bidang studinya dan menyampaikan kepada siswa dengan sebaik-baiknya. Masalah berhasil atau tidaknya siswa bukan tanggung jawab pengajar.
(2) Pengertian institusional.
Mengajar berarti the efficient orchestration of teaching skills, yakni penataan segala kemampuan mengajar secara efisien. Dalam hal ini guru dituntut untuk selalu siap mengadaptasikan berbagai teknik mengajar terhadap siswa yang memiliki berbagai macam tipe belajar serta berbeda bakat, kemampuan dan kebutuhannya.
(3) Pengertian kualitatif.
Mengajar diartikan sebagai the facilitation of learning, yaitu upaya membantu memudahkan kegiatan belajar siswa mencari makna dan pemahamannya sendiri. Burton (dalam Sagala, 2003:61) mengemukakan mengajar adalah upaya memberikan stimulus, bimbingan pengarahan, dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar.
Berdasarkan definisi-definisi mengajar dari para pakar di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa mengajar adalah aktivitas kompleks yang dilakukan guru dalam menyampaikan pengetahuan kepada siswa, sehingga terjadi proses belajar.
Aktivitas kompleks yang dimaksud antara lain adalah :
• mengatur kegiatan belajar siswa,
• memanfaatkan lingkungan, baik ada di kelas maupun yang ada di luar kelas, dan
• memberikan stimulus, bimbingan pengarahan, dan dorongan kepada siswa.
Berdasarkan penjelasan dari teori-teori diatas dapat dilihat bahwa belajar dan pembelajaran
1).Teori Pengajaran
Ada Beberapa pendapat yang menyangkut hubungan antara teori belajar dengan teori pengajaran.Berikut ini akan dikemukaan lima pendekatan bagaimana menggunakan teori belajar psikolog dalam menyusun teori pengajaran.
1. Pendekatan Modifikasi Tingkah Laku.
Pendekatan modifikasi tingkah laku telah didefinisikan secara khusus dan diterapkan dalam bidang klinis dan pendidikan.Kaedah –kaedah belajarnya diturunkan dari studi laboratorium proses belajar.Ia mendorong pendidik untuk menggunakan kaedah –kaedah penguatan (reinforcement) dalam mengidentifikasi aspek –aspek penting dalam belajar, dan mengatur kondisi sedemikian rupa agar sisiwa memiliki reward.Di samping itu pendekatan modifikasi tingkah laku prosedur pengajaran terlalu mendorong para sisiwa untuk percaya bahwa selalu ada jawaban yang benar untuk setiap masalah.
2. Pendekatan Teori Belajar Konektif
Teori pengajaran harus berhubungan dengan motivasi sisiwa, menggunakan kaedah –kaedah yang dapat mendorong siswa mau dan mampu belajar bila mereka memasuki situasi belajar mengajar.
3. Pendekatan Kaedah-Kaedah Belajar
Teori pengajaran harus memberikan tekanan kepada perhatian dan respon sisiwa terhadap bahan pengajaran,serta pengetahuan yang dihasilkan sebagai kontrol respon dan ganjaran merupakan cara untuk membimbing perhatian dan tingkah laku sisiwa.
4. Pendekatan Analisis Tugas
Pendekatan ini muncul kaerna ketidak puasan terhadap teori pengajaran berdasarkan kaedah –kaedah belajar laboratoris. Mereka menyatakan bahwa studi belajar psikolog dapat bermanfaat bila menyiapkan suatu cara yang sitematis untuk menganalisis jenis tugas yang ada dalam latihan pratis termasuk dalam praktek pendidikan dan pengjaran.
5. Pendekatan Psikolog Humanistik
Psikolog humanistik dipandang sebagai alternatif baru neobehaviorisme dan psikolog kognitif. Sehingga psikolog harus lebih menangani pribadi keseluruhan (whole person) dari pada analisis bagian –bagian dari semua sub aspek manusia.Sehingga bisa ditentukan agar menunjang proses belajar yang lebih bermakna.Namun teori pengajaran dari psikologi humanistik tidak selesai dan menuntut pengujian secara empiris.
Penjelasan diatas membuktikan bahwa betapa pentingnya psikologi dalam proses belajar dan mengajar maupun dalam dunia pendidikan pada umumnya. Guru dituntut untuk mengetahui aspek-aspek kejiwaaan dari peserta didiknya agar guru dapat menerapkan konsep belajar maupun mengajar yang pas untuk peserta didiknya sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai seperti yang diharapkan.

Tes adalah suatu alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi tentang seseorang atau sebuah obyek tertentu sebelum digunakan di validasi.

Pengukuran adalah suatu proses untuk memperoleh besaran kuantitatif dari suatu obyek tertentu dengan menggunakan alat ukur.

Evaluasi adalah suatu proses pengambilan keputusan atau memberikan nilai terhadap suatu hasil berupa besaran kuantitatis (Skor)yang dicapai oleh seseorang atau suatu abservasi tertentu.

Falsafah Penjas (Andi Brilin)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Kedudukan Dan Makna Pendidikan Jasmani

Bangsa kita sedang dihadapkan pada kondisi centang perenang. Krisis multimuka yang datang menyusul terjadinya krisis ekonomi dan krisis moneter yang memukul bangsa kita di titik akhir milenium kedua, hingga kini masih membekaskan luka dalam bagi sebagian besar masyarakat kita. Luka itu terasa lebih pedih dan lama bagi bangsa kita, di tengah kondisi dunia yang sedang dihadapkan pada krisis perebutan kekuasaan politik dunia, dengan nuansa kental perebutan kekuatan ekonomi dan teknologi di sebagian besar dunia maju.

Kemampuan ekonomi bangsa Indonesia telah terlempar pada keadaan tak terkendali, menghasilkan persoalan-persoalan seperti pemangkasan anggaran, harga barang yang membubung, kesulitan dan konflik penduduk kota, rangkaian pengangguran, hingga defisit pemerintah yang semakin menggunung.

Jika negara maju lainnya sudah mengambil langkah-langkah pasti terhadap persoalan global yang menantang tersebut, Indonesia tetap berada dalam kondisi lesu. Bagi negara lain, misalnya, keterbatasan sumber energi yang berbasis pada penggunaan minyak bumi telah diantisipasi dengan jalan memproduksi alat transportasi dan pengoperasian pabrik-pabrik yang akrab lingkungan dan hemat energi. Perhatian terhadap lingkungan telah mengarah pada upaya pengimplementasian alat-alat dan aturan yang membatasi toleransi kebisingan suara, radiasi, dan polusi serta perusakan tanah, hutan dan sungai. Penekanan asas akuntabilitas telah mendorong para pembayar pajak untuk mengetahui kemana saja uang mereka dihabiskan. Ancaman perpecahan antar etnis dan konflik bangsa-bangsa mengarah pada diberdayakannya pendidikan dalam semua jenjang dan mata pelajaran sebagai alat untuk menumbuhkan saling pengertian dan cinta damai pada para siswa dan masyarakatnya. Ini semua berbeda tajam dengan apa yang tengah terjadi di negara kita.

Tidak cukup dengan itu, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang sudah mencapai tahap yang sangat maju, telah pula menghadapkan bangsa kita, terutama para remaja dan anak-anak, pada gaya hidup yang semakin menjauh dari semangat perkembangan total, karena lebih mengutamakan keunggulan kecerdasan intelektual, sambil mengorbankan kepentingan keunggulan fisik dan moral individu. Budaya hidup sedenter (kurang gerak) karenanya semakin kuat menggejala di kalangan anak-anak dan remaja, berkombinasi dengan semakin hilangnya ruang-ruang publik dan tugas kehidupan yang memerlukan upaya fisik yang keras. Segalanya menjadi mudah, demikian pernyataan para ahli, sehingga lambat laun kemampuan fisik manusia sudah tidak diperlukan lagi. Dikhawatirkan, secara evolutif manusia akan berubah bentuk fisiknya, mengarah pada bentuk yang tidak bisa kita bayangkan, karena banyak anggota tubuh kita, dari mulai kaki dan lengan sudah dipandang tidak berfungsi lagi.

Dalam kondisi demikian, patutlah kita mempertanyakan kembali peranan dan fungsi pendidikan, khususnya pendidikan jasmani: apakah peranan yang bisa dimainkan oleh program pendidikan jasmani dalam kondisi dunia dan bangsa yang semakin dihadapkan pada kuatnya potensi konflik tersebut? Apa peranan pendidikan jasmani dalam mempersiapkan para pewaris bangsa ini untuk mampu bersaing secara sehat dalam persaingan global sekarang dan kelak? Apa pula peranan pendidikan jasmani dan olahraga dalam mengantisipasi kemungkinan terjadinya evolusi kehidupan manusia yang cenderung tidak lagi memerlukan perangkat fisik yang utuh untuk menjalankan tugasnya sehari-hari?

Buku ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar di atas, serta menawarkan satu alternatif dalam memandang peranan dan fungsi Pendidikan Jasmani yang seharusnya dilaksanakan di sekolah-sekolah,

B. Hakikat Pendidikan Jasmani

Pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional. Pendidikan jasmani memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, mahluk total, daripada hanya menganggapnya sebagai seseorang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya.

Pada kenyataannya, pendidikan jasmani adalah suatu bidang kajian yang sungguh luas. Titik perhatiannya adalah peningkatan gerak manusia. Lebih khusus lagi, penjas berkaitan dengan hubungan antara gerak manusia dan wilayah pendidikan lainnya: hubungan dari perkembangan tubuh-fisik dengan pikiran dan jiwanya. Fokusnya pada pengaruh perkembangan fisik terhadap wilayah pertumbuhan dan perkembangan aspek lain dari manusia itulah yang menjadikannya unik. Tidak ada bidang tunggal lainnya seperti pendidikan jasmani yang berkepentingan dengan perkembangan total manusia.

Per definisi, pendidikan jasmani diartikan dengan berbagai ungkapan dan kalimat. Namun esensinya sama, yang jika disimpulkan bermakna jelas, bahwa pendidikan jasmani memanfaatkan alat fisik untuk mengembangan keutuhan manusia. Dalam kaitan ini diartikan bahwa melalui fisik, aspek mental dan emosional pun turut terkembangkan, bahkan dengan penekanan yang cukup dalam. Berbeda dengan bidang lain, misalnya pendidikan moral, yang penekanannya benar-benar pada perkembangan moral, tetapi aspek fisik tidak turut terkembangkan, baik langsung maupun secara tidak langsung.

Karena hasil-hasil kependidikan dari pendidikan jasmani tidak hanya terbatas pada manfaat penyempurnaan fisik atau tubuh semata, definisi penjas tidak hanya menunjuk pada pengertian tradisional dari aktivitas fisik. Kita harus melihat istilah pendidikan jasmani pada bidang yang lebih luas dan lebih abstrak, sebagai satu proses pembentukan kualitas pikiran dan juga tubuh.

Sungguh, pendidikan jasmani ini karenanya harus menyebabkan perbaikan dalam ‘pikiran dan tubuh’ yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan harian seseorang. Pendekatan holistik tubuh-jiwa ini termasuk pula penekanan pada ketiga domain kependidikan: psikomotor, kognitif, dan afektif. Dengan meminjam ungkapan Robert Gensemer, penjas diistilahkan sebagai proses menciptakan “tubuh yang baik bagi tempat pikiran atau jiwa.” Artinya, dalam tubuh yang baik ‘diharapkan’ pula terdapat jiwa yang sehat, sejalan dengan pepatah Romawi Kuno: Men sana in corporesano.

Kesatuan Jiwa dan Raga

Salah satu pertanyaan sulit di sepanjang jaman adalah pemisahan antara jiwa dan raga atau tubuh. Kepercayaan umum menyatakan bahwa jiwa dan raga terpisah, dengan penekanan berlebihan pada satu sisi tertentu, disebut dualisme, yang mengarah pada penghormatan lebih pada jiwa, dan menempatkan kegiatan fisik secara lebih inferior.

Pandangan yang berbeda lahir dari filsafat monisme, yaitu suatu kepercayaan yang memenangkan kesatuan tubuh dan jiwa. Kita bisa melacak pandangan ini dari pandangan Athena Kuno, dengan konsepnya “jiwa yang baik di dalam raga yang baik.” Moto tersebut sering dipertimbangkan sebagai pernyataan ideal dari tujuan pendidikan jasmani tradisional: aktivitas fisik mengembangkan seluruh aspek dari tubuh; yaitu jiwa, tubuh, dan spirit. Tepatlah ungkapan Zeigler bahwa fokus dari bidang pendidikan jasmani adalah aktivitas fisik yang mengembangkan, bukan semata-mata aktivitas fisik itu sendiri. Selalu terdapat tujuan pengembangan manusia dalam program pendidikan jasmani.

Akan tetapi, pertanyaan nyata yang harus dikedepankan di sini bukanlah ‘apakah kita percaya terhadap konsep holistik tentang pendidikan jasmani, tetapi, apakah konsep tersebut saat ini bersifat dominan dalam masyarakat kita atau di antara pengemban tugas penjas sendiri?

Dalam masyarakat sendiri, konsep dan kepercayaan terhadap pandangan dualisme di atas masih kuat berlaku. Bahkan termasuk juga pada sebagian besar guru penjas sendiri, barangkali pandangan demikian masih kuat mengakar, entah akibat dari kurangnya pemahaman terhadap falsafah penjas sendiri, maupun karena kuatnya kepercayaan itu. Yang pasti, masih banyak guru penjas yang sangat jauh dari menyadari terhadap peranan dan fungsi pendidikan jasmani di sekolah-sekolah, sehingga proses pembelajaran penjas di sekolahnya masih lebih banyak ditekankan pada program yang berat sebelah pada aspek fisik semata-mata. Bahkan, dalam kasus Indonesia, penekanan yang berat itu masih dipandang labih baik, karena ironisnya, justru program pendidikan jasmani di kita malahan tidak ditekankan ke mana-mana. Itu karena pandangan yang sudah lebih parah, yang memandang bahwa program penjas dipandang tidak penting sama sekali.

Nilai-nilai yang dikandung penjas untuk mengembangkan manusia utuh menyeluruh, sungguh masih jauh dari kesadaran dan pengakuan masyarakat kita. Ini bersumber dan disebabkan oleh kenyataan pelaksanaan praktik penjas di lapangan. Teramat banyak kasus atau contoh di mana orang menolak manfaat atau nilai positif dari penjas dengan menunjuk pada kurang bernilai dan tidak seimbangnya program pendidikan jasmani di lapangan seperti yang dapat mereka lihat. Perbedaan atau kesenjangan antara apa yang kita percayai dan apa yang kita praktikkan (gap antara teori dan praktek) adalah sebuah duri dalam bidang pendidikan jasmani kita

Hubungan Pendidikan Jasmani dengan Bermain dan Olahraga

Dalam memahami arti pendidikan jasmani, kita harus juga mempertimbangkan hubungan antara bermain (play) dan olahraga (sport), sebagai istilah yang lebih dahulu populer dan lebih sering digunakan dalam konteks kegiatan sehari-hari. Pemahaman tersebut akan membantu para guru atau masyarakat dalam memahami peranan dan fungsi pendidikan jasmani secara lebih konseptual.

Bermain pada intinya adalah aktivitas yang digunakan sebagai hiburan. Kita mengartikan bermain sebagai hiburan yang bersifat fisikal yang tidak kompetitif, meskipun bermain tidak harus selalu bersifat fisik. Bermain bukanlah berarti olahraga dan pendidikan jasmani, meskipun elemen dari bermain dapat ditemukan di dalam keduanya.

Olahraga di pihak lain adalah suatu bentuk bermain yang terorganisir dan bersifat kompetitif. Beberapa ahli memandang bahwa olahraga semata-mata suatu bentuk permainan yang terorganisasi, yang menempatkannya lebih dekat kepada istilah pendidikan jasmani. Akan tetapi, pengujian yang lebih cermat menunjukkan bahwa secara tradisional, olahraga melibatkan aktivitas kompetitif.

Ketika kita menunjuk pada olahraga sebagai aktivitas kompetitif yang terorganisir, kita mengartikannya bahwa aktivitas itu sudah disempurnakan dan diformalkan hingga kadar tertentu, sehingga memiliki beberapa bentuk dan proses tetap yang terlibat. Peraturan, misalnya, baik tertulis maupun tak tertulis, digunakan atau dipakai dalam aktivitas tersebut, dan aturan atau prosedur tersebut tidak dapat diubah selama kegiatan berlangsung, kecuali atas kesepakatan semua pihak yang terlibat.

Di atas semua pengertian itu, olahraga adalah aktivitas kompetitif. Kita tidak dapat mengartikan olahraga tanpa memikirkan kompetisi, sehingga tanpa kompetisi itu, olahraga berubah menjadi semata-mata bermain atau rekreasi. Bermain, karenanya pada satu saat menjadi olahraga, tetapi sebaliknya, olahraga tidak pernah hanya semata-mata bermain; karena aspek kompetitif teramat penting dalam hakikatnya.

Di pihak lain, pendidikan jasmani mengandung elemen baik dari bermain maupun dari olahraga, tetapi tidak berarti hanya salah satu saja, atau tidak juga harus selalu seimbang di antara keduanya. Sebagaimana dimengerti dari kata-katanya, pendidikan jasmani adalah aktivitas jasmani yang memiliki tujuan kependidikan tertentu. Pendidikan Jasmani bersifat fisik dalam aktivitasnya dan penjas dilaksanakan untuk mendidik. Hal itu tidak bisa berlaku bagi bermain dan olahraga, meskipun keduanya selalu digunakan dalam proses kependidikan.

Bermain, olahraga dan pendidikan jasmani melibatkan bentuk-bentuk gerakan, dan ketiganya dapat melumat secara pas dalam konteks pendidikan jika digunakan untuk tujuan-tujuan kependidikan. Bermain dapat membuat rileks dan menghibur tanpa adanya tujuan pendidikan, seperti juga olahraga tetap eksis tanpa ada tujuan kependidikan. Misalnya, olahraga profesional (di Amerika umumnya disebut athletics) dianggap tidak punya misi kependidikan apa-apa, tetapi tetap disebut sebagai olahraga. Olahraga dan bermain dapat eksis meskipun secara murni untuk kepentingan kesenangan, untuk kepentingan pendidikan, atau untuk kombinasi keduanya. Kesenangan dan pendidikan tidak harus dipisahkan secara eksklusif; keduanya dapat dan harus beriringan bersama.

Lalu bagaimana dengan rekreasi dan dansa (dance)?

Para ahli memandang bahwa rekreasi adalah aktivitas untuk mengisi waktu senggang. Akan tetapi, rekreasi dapat pula memenuhi salah satu definisi “penggunaan berharga dari waktu luang.” Dalam pandangan itu, aktivitas diseleksi oleh individu sebagai fungsi memperbaharui ulang kondisi fisik dan jiwa, sehingga tidak berarti hanya membuang-buang waktu atau membunuh waktu. Rekreasi adalah aktivitas yang menyehatkan pada aspek fisik, mental dan sosial. Jay B. Nash menggambarkan bahwa rekreasi adalah pelengkap dari kerja, dan karenanya merupakan kebutuhan semua orang.

Dengan demikian, penekanan dari rekreasi adalah dalam nuansa “mencipta kembali” (re-creation) orang tersebut, upaya revitalisasi tubuh dan jiwa yang terwujud karena ‘menjauh’ dari aktivitas rutin dan kondisi yang menekan dalam kehidupan sehari-hari. Landasan kependidikan dari rekreasi karenanya kini diangkat kembali, sehingga sering diistilahkan dengan pendidikan rekreasi, yang tujuan utamanya adalah mendidik orang dalam bagaimana memanfaatkan waktu senggang mereka.

Sedangkan dansa adalah aktivitas gerak ritmis yang biasanya dilakukan dengan iringan musik, kadang dipandang sebagai sebuah alat ungkap atau ekspresi dari suatu lingkup budaya tertentu, yang pada perkembangannya digunakan untuk hiburan dan memperoleh kesenangan, di samping sebagai alat untuk menjalin komunikasi dan pergaulan, di samping sebagai kegiatan yang menyehatkan.

Di Amerika, dansa menjadi bagian dari program pendidikan jasmani, karena dipandang sebagai alat untuk membina perbendaharaan dan pengalaman gerak anak, di samping untuk meningkatkan kebugaran jasmani serta pewarisan nilai-nilai. Meskipun menjadi bagian penjas, dansa sendiri masih dianggap sebagai cabang dari seni. Kemungkinan bahwa dansa digunakan dalam penjas terutama karena hasilnya yang mampu mengembangkan orientasi gerak tubuh. Bahkan ditengarai bahwa aspek seni dari dansa dipandang mampu mengurangi kecenderungan penjas agar tidak terlalu berorientasi kompetitif dengan memasukkan unsur estetikanya. Jadi sifatnya untuk melengkapi fungsi dan peranan penjas dalam membentuk manusia yang utuh seperti diungkap di bagian-bagian awal naskah ini.

C. Tujuan Pendidikan Jasmani

Apakah sebenarnya tujuan pendidikan jasmani? Menjawab pertanyaan demikian, banyak guru yang masih berbeda pendapat. Ada yang menjawab bahwa tujuannya adalah untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam berolahraga. Ada pula yang berpendapat, tujuannya adalah meningkatkan taraf kesehatan anak yang baik, dan tidak bisa disangkal pula pasti ada yang mengatakan, bahwa tujuan pendidikan jasmani adalah untuk meningkatkan kebugaran jasmani. Kesemua jawaban di atas benar belaka. Hanya saja barangkali bisa dikatakan kurang lengkap, sebab yang paling penting dari kesemuanya itu tujuannya bersifat menyeluruh.

Secara sederhana, pendidikan jasmani memberikan kesempatan kepada siswa untuk:

  • Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan aktivitas jasmani, perkembangan estetika, dan perkembangan sosial.
  • Mengembangkan kepercayaan diri dan kemampuan untuk menguasai keterampilan gerak dasar yang akan mendorong partisipasinya dalam aneka aktivitas jasmani.
  • Memperoleh dan mempertahankan derajat kebugaran jasmani yang optimal untuk melaksanakan tugas sehari-hari secara efisien dan terkendali.
  • Mengembangkan nilai-nilai pribadi melalui partisipasi dalam aktivitas jasmani baik secara kelompok maupun perorangan.
  • Berpartisipasi dalam aktivitas jasmani yang dapat mengembangkan keterampilan sosial yang memungkinkan siswa berfungsi secara efektif dalam hubungan antar orang.
  • Menikmati kesenangan dan keriangan melalui aktivitas jasmani, termasuk permainan olahraga.

Diringkaskan dalam terminologi yang populer, maka tujuan pembelajaran pendidikan jasmani itu harus mencakup tujuan dalam domain psikomotorik, domain kognitif, dan tak kalah pentingnya dalam domain afektif. Pengembangan domain psikomotorik secara umum dapat diarahkan pada dua tujuan utama, pertama mencapai perkembangan aspek kebugaran jasmani, dan kedua, mencapai perkembangan aspek perseptual motorik. Ini menegaskan bahwa pembelajaran pendidikan jasmani harus melibatkan aktivitas fisik yang mampu merangsang kemampuan kebugaran jasmani serta sekaligus bersifat pembentukan penguasaan gerak keterampilan itu sendiri.

Kebugaran jasmani merupakan aspek penting dari domain psikomotorik, yang bertumpu pada perkembangan kemampuan biologis organ tubuh. Konsentrasinya lebih banyak pada persoalan peningkatan efisiensi fungsi faal tubuh dengan segala aspeknya sebagai sebuah sistem (misalnya sistem peredaran darah, sistem pernapasan, sistem metabolisme, dll.)

Dalam pengertian yang lebih resmi, sering dibedakan konsep kebugaran jasmani ini dengan konsep kebugaran motorik. Keduanya dibedakan dalam hal: kebugaran jasmani menunjuk pada aspek kualitas tubuh dan organ-organnya, seperti kekuatan (otot), daya tahan (jantung-paru), kelentukan (otot dan persendian); sedangkan kebugaran motorik menekankan aspek penampilan yang melibatkan kualitas gerak sendiri seperti kecepatan, kelincahan, koordinasi, power, keseimbangan, dll. Namun dalam naskah ini, penulis akan menggunakan konsep kebugaran jasmani tersebut untuk menunjuk pada keseluruhan aspek di atas.

Pengembangan keterampilan gerak merujuk pada proses penguasaan suatu keterampilan atau tugas gerak yang melibatkan proses mempersepsi rangsangan dari luar, kemudian rangsangan itu diolah dan diprogramkan sampai terjadinya respons berupa tindakan yang sesuai dengan rangsangan itu.Penekanan proses pembelajarannya lebih banyak ditujukan pada proses perangsangan yang bervariasi, sehingga setiap kali anak selalu mengerahkan kemampuannya dalam mengolah informasi, ketika akan menghasilkan gerak. Dengan cara itu, kepekaan sistem saraf anak semakin dikembangkan.

Domain kognitif mencakup pengetahuan tentang fakta, konsep, dan lebih penting lagi adalah penalaran dan kemampuan memecahkan masalah. Aspek kognitif dalam pendidikan jasmani, tidak saja menyangkut penguasaan pengetahuan faktual semata-mata, tetapi meliputi pula pemahaman terhadap gejala gerak dan prinsipnya, termasuk yang berkaitan dengan landasan ilmiah pendidikan jasmani dan olahraga serta manfaat pengisian waktu luang. Domain afektif mencakup sifat-sifat psikologis yang menjadi unsur kepribadian yang kukuh. Tidak hanya tentang sikap sebagai kesiapan berbuat yang perlu dikembangkan, tetapi yang lebih penting adalah konsep diri dan komponen kepribadian lainnya, seperti intelegensia emosional dan watak. Konsep diri menyangkut persepsi diri atau penilaian seseorang tentang kelebihannya. Konsep diri merupakan fondasi kepribadian anak dan sangat diyakini ada kaitannya dengan pertumbuhan dan perkembangan mereka setelah dewasa kelak.

Intelegensia emosional mencakup beberapa sifat penting, yakni pengendalian diri, kemampuan memotivasi diri, ketekunan, dan kemampuan untuk berempati. Pengendalian diri merupakan kualitas pribadi yang mampu menyelaraskan pertimbangan akal dan emosi yang menjadi sifat penting dalam kehidupan sosial dan pencapaiannya untuk sukses hidup di masyarakat. Demikian juga dengan ketekunan; tidak ada pekerjaan yang dapat dicapai dengan baik tanpa ada ketekunan. Ini juga berlaku sama dengan kemampuan memotivasi diri, kemandirian untuk tidak selalu diawasi dalam menyelesaikan tugas apapun.

Di lain pihak, kemampuan berempati merupakan kualitas pribadi yang mampu menempatkan diri di pihak orang lain, dengan mencoba mengetahui perasaan oran lain. Karena itu pula empati disebut juga sebagai kecerdasan hubungan sosial. “Cubitlah diri kamu sendiri, sebelum mencubit orang lain. Niscaya kamu akan mengetahui, apa yang boleh dan tidak boleh kamu lakukan pada orang lain,” merupakan kearifan leluhur, yang jika diperas maknanya, tidak lain adalah penekanan kemampuan berempati.

D. Gerak Sebagai Kebutuhan Anak

Dunia anak-anak adalah dunia yang segar, baru, dan senantiasa indah, dipenuhi keajaiban dan keriangan. Demikian Rachel Carson dalam sebuah ungkapannya. Namun demikian, menurut Carson, adalah kemalangan bagi kebanyakan kita bahwa dunia yang cemerlang itu terenggut muram dan bahkan hilang sebelum kita dewasa.

Dunia anak-anak memang menakjubkan, mengandung aneka ragam pengalaman yang mencengangkan, dilengkapi berbagai kesempatan untuk memperoleh pembinaan . Bila guru masuk ke dalam dunia itu, ia dapat membantu anak-anak untuk mengembangkan pengetahuannya, mengasah  sepekaan rasa hatinya serta memperkaya keterampilannya.

Bermain adalah dunia anak. Sambil bermain mereka belajar. Dalam hal belajar, anak-anak adalah ahlinya. Segala macam dipelajarinya, dari menggerakkan anggota tubuhnya hingga mengenali berbagai benda di lingkungan sekitarnya. Bayangkan keceriaan yang didapatnya ketika ia menyadari baru saja menambah pengetahuan dan keterampilan. “Lihat, saya sudah bisa “ teriaknya kepada semua orang.

Belajar dan keceriaan merupakan dua hal penting dalam masa kanak-kanak. Hal ini termasuk upaya mempelajari tubuhnya sendiri dan berbagai kemungkinan geraknya. Gerak adalah rangsangan utama bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Kian banyak ia bergerak, kian banyak hal yang ditemui dan dijelajahi. Kian baik pula kualitas pertumbuhannya.

Perhatikan tiga kata kunci di atas: gerak, gembira, dan belajar. Anak-anak suka bergerak dan suka belajar. Perhatikan bagaimana anak-anak bermain di lapangan. Di sana akan tampak, mereka bergerak dengan keterlibatan yang total dan dipenuhi kegembiraan. Bagi anak, gerak semata-mata untuk kesenangan, bukan di dorong oleh maksud dan tujuan tertentu. Gerak adalah kebutuhan mutlak anak-anak.
Sayangnya, ketika usianya semakin meningkat, aktivitas anak-anak semakin berkurang. Ketika memasuki usia sekolah, ia belajar dengan cara yang berbeda. Mereka lebih banyak diminta duduk tenang untuk mendengarkan penjelasan guru tentang berbagai hal. Lingkungan belajar pun semakin sempit, dibatasi oleh empat sisi dinding kelas yang membelenggu. Karena dipaksa untuk diam, dan mendengarkan orang lain berbicara, belajar tidak lagi menarik bagi anak. Keceriaan mereka terampas dan hilanglah sebagian “keajaiban” dunia anak-anak mereka. Tidak heran bila anak merasa bahwa belajar ternyata kegiatan yang tidak menyenangkan.

E. Pentingnya Pendidikan Jasmani

Beban belajar di sekolah begitu berat dan menekan kebebasan anak untuk bergerak. Kebutuhan mereka akan gerak tidak bisa terpenuhi karena keterbatasan waktu dan kesempatan. Lingkungan sekolah tidak menyediakan wilayah yang menarik untuk dijelajahi. Penyelenggara pendidikan di sekolah yang lebih mengutamakan prestasi akademis, memberikan anak tugas-tugas belajar yang menumpuk.

Kehidupan sekolah yang demikian berkombinasi pula dengan kehidupan di rumah dan lingkungan luar sekolah. Jika di sekolah anak kurang bergerak, di rumah keadaannya juga demikian. Kemajuan teknologi yang dicapai pada saat ini, malah mengungkung anak-anak dalam lingkungan kurang gerak. Anak semakin asyik dengan kesenangannya seperti menonton TV atau bermain video game. Tidak mengherankan bila ada kerisauan bahwa kebugaran anak-anak semakin menurun.

Dengan semakin rendahnya kebugaran jasmani, kian meningkat pula gejala penyakit hipokinetik (kurang gerak). Kegemukan, tekanan darah tinggi, kencing manis, nyeri pinggang bagian bawah, adalah contoh dari penyakit kurang gerak . Akibatnya penyakit jantung tidak lagi menjadi monopoli orang dewasa, tetapi juga sudah menyerang anak-anak.

Sejalan dengan itu, pengetahuan dan kebiasaan makan yang buruk pun semakin memperparah masalah kesehatan yang mengancam kesejahteraan masyarakat. Dengan pola gizi yang berlebihan, para ‘pemalas gerak’ itu akan menimbun lemak dalam tubuhnya secara berlebihan. Mereka menghadapkan diri mereka sendiri pada resiko penyakit degenaratif (menurunnya fungsi organ) yang semakin besar.

Pendidikan Jasmani tampil untuk mengatasi masalah tersebut sehingga kedudukannya dianggap penting. Melalui program yang direncanakan secara baik, anak-anak dilibatkan dalam kegiatan fisik yang tinggi intensitasnya. Pendidikan Jasmani juga tetap menyediakan ruang untuk belajar menjelajahi lingkungan yang ada di sekitarnya dengan banyak mencoba, sehingga kegiatannya tetap sesuai dengan minat anak. Lewat pendidikan jasmanilah anak-anak menemukan saluran yang tepat untuk bergerak bebas dan meraih kembali keceriaannya, sambil terangsang perkembangan yang bersifat menyeluruh.

Secara umum, manfaat pendidikan jasmani di sekolah mencakup sebagai berikut:

1.    Memenuhi kebutuhan anak akan gerak

Pendidikan jasmani memang merupakan dunia anak-anak dan sesuai dengan kebutuhan anak-anak. Di dalamnya anak-anak dapat belajar sambil bergembira melalui penyaluran hasratnya untuk bergerak. Semakin terpenuhi kebutuhan akan gerak dalam masa-masa pertumbuhannya, kian besar kemaslahatannya bagi kualitas pertumbuhan itu sendiri.

2. Mengenalkan anak pada lingkungan dan potensi dirinya

Pendidikan jasmani adalah waktu untuk ‘berbuat’. Anak-anak akan lebih memilih untuk ‘berbuat’ sesuatu dari pada hanya harus melihat atau mendengarkan orang lain ketika mereka sedang belajar. Suasana kebebasan yang ditawarkan di lapangan atau gedung olahraga sirna karena sekian lama terkurung di antara batas-batas ruang kelas. Keadaan ini benar-benar tidak sesuai dengan dorongan nalurinya.

Dengan bermain dan bergerak anak benar-benar belajar tentang potensinya dan dalam kegiatan ini anak-anak mencoba mengenali lingkungan sekitarnya. Para ahli sepaham bahwa pengalaman ini penting untuk merangsang pertumbuhan intelektual dan hubungan sosialnya dan bahkan perkembangan harga diri yang menjadi dasar kepribadiannya kelak.

3. Menanamkan dasar-dasar keterampilan yang berguna

Peranan pendidikan jasmani di Sekolah Dasar cukup unik, karena turut mengembangkan dasar-dasar keterampilan yang diperlukan anak untuk menguasai berbagai keterampilan dalam kehidupan di kemudian hari. Menurut para ahli, pola pertumbuhan anak usia sekolah hingga menjelang akil balig atau remaja disebut pola pertumbuhan lambat. Pola ini merupakan kebalikan dari pola pertumbuhan cepat yang dialami anak ketika mereka baru lahir hingga usia 5 tahunan. Dalam hal ini berlaku dalil:

“… ketika memasuki masa pertumbuhan cepat, kemampuan untuk mempelajari keterampilan-keterampilan baru berjalan lambat. Sebaliknya, dalam masa pertumbuhan yang lambat, kemampuan untuk mempelajari keterampilan meningkat.”

Karena pada usia SD tingkat pertumbuhan sedang lambat-lambatnya, maka pada usia-usia inilah kesempatan anak untuk mempelajari keterampilan gerak sedang tiba pada masa kritisnya. Konsekuensinya, keterlantaran pembinaan pada masa ini sangat berpengruh terhadap perkembangan anak pada masa berikutnya.

4. Menyalurkan energi yang berlebihan

Anak adalah mahluk yang sedang berada dalam masa kelebihan energi. Kelebihan energi ini perlu disalurkan agar tidak menganggu keseimbangan perilaku dan mental anak. Segera setelah kelebihan energi tersalurkan, anak akan memperoleh kembali keseimbangan dirinya, karena setelah istirahat, anak akan kembali memperbaharui dan memulihkan energinya secara optimum.

5. Merupakan proses pendidikan secara serempak baik fisik, mental maupun emosional

Pendidikan jasmani yang benar akan memberikan sumbangan yang sangat berarti terhadap pendidikan anak secara keseluruhan. Hasil nyata yang diperoleh dari pendidikan jasmani adalah perkembangan yang lengkap, meliputi aspek fisik, mental, emosi, sosial dan moral. Tidak salah jika para ahli percaya bahwa pendidikan jasmani merupakan wahana yang paling tepat untuk “membentuk manusia seutuhnynya.

BAB II
KONSEPSI DAN FALSAFAH PENDIDIKAN JASMANI

A. Pengertian Pendidikan Jasmani

Pendidikan jasmani merupakan bagian penting dari proses pendidikan. Artinya, penjas bukan hanya dekorasi atau ornamen yang ditempel pada program sekolah sebagai alat untuk membuat anak sibuk. Tetapi penjas adalah bagian penting dari pendidikan. Melalui penjas yang diarahkan dengan baik, anak-anak akan mengembangkan keterampilan yang berguna bagi pengisian waktu senggang, terlibat dalam aktivitas yang kondusif untuk mengembangkan hidup sehat, berkembang secara sosial, dan menyumbang pada kesehatan fisik dan mentalnya.

Meskipun penjas menawarkan kepada anak untuk bergembira, tidaklah tepat untuk mengatakan pendidikan jasmani diselenggarakan semata-mata agar anak-anak bergembira dan bersenang-senang. Bila demikian seolah-olah pendidikan jasmani hanyalah sebagai mata pelajaran ”selingan”, tidak berbobot, dan tidak memiliki tujuan yang bersifat mendidik.

Pendidikan jasmani merupakan wahana pendidikan, yang memberikan kesempatan bagi anak untuk mempelajari hal-hal yang penting. Oleh karena itu, pelajaran penjas tidak kalah penting dibandingkan dengan pelajaran lain seperti; Matematika, Bahasa, IPS dan IPA, dan lain-lain.

Namun demikian tidak semua guru penjas menyadari hal tersebut, sehingga banyak anggapan bahwa penjas boleh dilaksanakan secara serampangan. Hal ini tercermin dari berbagai gambaran negatif tentang pembelajaran penjas, mulai dari kelemahan proses yang menetap misalnya membiarkan anak bermain sendiri hingga rendahnya mutu hasil pembelajaran, seperti kebugaran jasmani yang rendah.

Di kalangan guru penjas sering ada anggapan bahwa pelajaran pendidikan jasmani dapat dilaksanakan seadanya, sehingga pelaksanaannya cukup dengan cara menyuruh anak pergi ke lapangan, menyediakan bola sepak untuk laki-laki dan bola voli untuk perempuan. Guru tinggal mengawasi di pinggir lapangan.

Mengapa bisa terjadi demikian? Kelemahan ini berpangkal pada ketidakpahaman guru tentang arti dan tujuan pendidikan jasmani di sekolah, di samping ia mungkin kurang mencintai tugas itu dengan sepenuh hati. Apakah sebenarnya pendidikan jasmani dan apa tujuannya? Secara umum pendidikan jasmani dapat didefinisikan sebagai berikut:

Pendidikan Jasmani adalah proses pendidikan melalui aktivitas jasmani, permainan atau olahraga yang terpilih untuk mencapai tujuan pendidikan.

Definisi di atas mengukuhkan bahwa pendidikan jasmani merupakan bagian tak terpisahkan dari pendidikan umum. Tujuannya adalah untuk membantu anak agar tumbuh dan berkembang secara wajar sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, yaitu menjadi manusia Indonesia seutuhnya. Pencapaian tujuan tersebut berpangkal pada perencanaan pengalaman gerak yang sesuai dengan karakteristik anak.

Jadi, pendidikan jasmani diartikan sebagai proses pendidikan melalui aktivitas jasmani atau olahraga. Inti pengertiannya adalah mendidik anak. Yang membedakannya dengan mata pelajaran lain adalah alat yang digunakan adalah gerak insani, manusia yang bergerak secara sadar. Gerak itu dirancang secara sadar oleh gurunya dan diberikan dalam situasi yang tepat, agar dapat merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak didik.

Tujuan pendidikan jasmani sudah tercakup dalam pemaparan di atas yaitu memberikan kesempatan kepada anak untuk mempelajari berbagai kegiatan yang membina sekaligus mengembangkan potensi anak, baik dalam aspek fisik, mental, sosial, emosional dan moral. Singkatnya, pendidikan jasmani bertujuan untuk mengembangkan potensi setiap anak setinggi-tingginya. Dalam bentuk bagan, secara sederhana tujuan penjas meliputi tiga ranah (domain) sebagai satu kesatuan, sebagai berikut:

Tujuan di atas merupakan pedoman bagi guru penjas dalam melaksanakan tugasnya. Tujuan tersebut harus bisa dicapai melalui kegiatan pembelajaran yang direncanakan secara matang, dengan berpedoman pada ilmu mendidik. Dengan demikian, hal terpenting untuk disadari oleh guru penjas adalah bahwa ia harus menganggap dirinya sendiri sebagai pendidik, bukan hanya sebagai pelatih atau pengatur kegiatan. Misi pendidikan jasmani tercakup dalam tujuan pembelajaran yang meliputi domain kognitif, afektif dan psikomotor. Perkembangan pengetahuan atau sifat-sifat sosial bukan sekedar dampak pengiring yang menyertai keterampilan gerak. Tujuan itu harus masuk dalam perencanaan dan skenario pembelajaran. Kedudukannya sama dengan tujuan pembelajaran pengembangan domain psikomotor.

Dalam hal ini, untuk mencapai tujuan tersebut , guru perlu membiasakan diri untuk mengajar anak tentang apa yang akan dipelajari berlandaskan pemahaman tentang prinsip-prinsip yang mendasarinya. Pergaulan yang terjadi di dalam adegan yang bersifat mendidik itu dimanfaatkan secara sengaja untuk menumbuhkan berbagai kesadaran emosional dan sosial anak. Dengan demikian anak akan berkembang secara menyeluruh, yang akan mendukung tercapainya aneka kemampuan.

B. Perbedaan Makna Pendidikan Jasmani dan Pendidikan Olahraga

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan oleh guru-guru penjas belakangan ini adalah : “Apakah pendidikan jasmani?” Pertanyaan yang cukup aneh ini justru dikemukakan oleh yang paling berhak menjawab pertanyaan tersebut. Hal tersebut mungkin terjadi karena pada waktu sebelumnya guru itu merasa dirinya bukan sebagai guru penjas, melainkan guru pendidikan olahraga. Perubahan pandangan itu terjadi menyusul perubahan nama mata pelajaran wajib dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, dari mata pelajaran pendidikan olahraga dan kesehatan (orkes) dalam kurikulum 1984, menjadi pelajaran “pendidikan jasmani dan kesehatan” (penjaskes) dalam kurikulum1994.

Perubahan nama tersebut tidak dilengkapi dengan sumber belajar yang menjelaskan makna dan tujuan kedua istilah tersebut. Akibatnya sebagian besar guru menganggap bahwa perubahan nama itu tidak memiliki perbedaan, dan pelaksanaannya dianggap sama. Padahal muatan filosofis dari kedua istilah di atas sungguh berbeda, sehingga tujuannya pun berbeda pula. Pertanyaannya, apa bedanya pendidikan olahraga dengan pendidikan jasmani ?

Pendidikan jasmani berarti program pendidikan lewat gerak atau permainan dan olahraga. Di dalamnya terkandung arti bahwa gerakan, permainan, atau cabang olahraga tertentu yang dipilih hanyalah alat untuk mendidik. Mendidik apa ? Paling tidak fokusnya pada keterampilan anak. Hal ini dapat berupa keterampilan fisik dan motorik, keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah, dan bisa juga keterampilan emosional dan sosial.

Karena itu, seluruh adegan pembelajaran dalam mempelajari gerak dan olahraga tadi lebih penting dari pada hasilnya. Dengan demikian, bagaimana guru memilih metode, melibatkan anak, berinteraksi dengan murid serta merangsang interaksi murid dengan murid lainnya, harus menjadi pertimbangan utama. Adapun pendidikan olahraga adalah pendidikan yang membina anak agar menguasai cabang-cabang olahraga tertentu. Kepada murid diperkenalkan berbagai cabang olahraga agar mereka menguasai keterampilan berolahraga. Yang ditekankan di sini adalah ‘ hasil ‘ dari pembelajaran itu, sehingga metode pengajaran serta bagaimana anak menjalani pembelajarannya didikte oleh tujuan yang ingin dicapai. Ciri-ciri pelatihan olahraga menyusup ke dalam proses pembelajaran.

Yang sering terjadi pada pembelajaran ‘pendidikan olahraga‘ adalah bahwa guru kurang memperhatikan kemampuan dan kebutuhan murid. Jika siswa harus belajar bermain bola voli, mereka belajar keterampilan teknik bola voli secara langsung. Teknik-teknik dasar dalam pelajaran demikian lebih ditekankan, sementara tahapan penyajian tugas gerak yang disesuaikan dengan kemampuan anak kurang diperhatikan.

Guru demikian akan berkata: “kalau perlu tidak usah ada pentahapan, karena anak akan dapat mempelajarinya secara langsung. Beri mereka bola, dan instruksikan anak supaya bermain langsung”. Anak yang sudah terampil biasanya dapat menjadi contoh, dan anak yang belum terampil belajar dari mengamati demonstrasi temannya yang sudah mahir tadi. Untuk pengajaran model seperti ini, ada ungkapan: “Kalau anda ingin anak-anak belajar renang, lemparkan mereka ke kolam yang paling dalam, dan mereka akan bisa sendiri“

Tabel di bawah menekankan perbedaan antara pendidikan jasmani dengan pendidikan olahraga.

Perbedaan antara Pendidikan Jasmani dan Pendidikan Olahraga
Pendidikan Jasmani Pendidikan Olahraga
  • Sosialisasi atau mendidik via olahraga
  • Menekankan perkembangan kepribadian menyeluruh
  • Menekankan penguasaan keterampilan dasar.
  • Sosialisasi atau mendidik ke dalam olahraga
  • Mengutamakan penguasaan keterampilan berolahraga
  • Menekankan penguasaan teknik dasar

Pendidikan jasmani tentu tidak bisa dilakukan dengan cara demikian. Pendidikan jasmani adalah suatu proses yang terencana dan bertahap yang perlu dibina secara hati-hati dalam waktu yang diperhitungkan. Bila orientasi pelajaran pendidikan jasmani adalah agar anak menguasai keterampilan berolahraga, misalnya sepak bola, guru akan lebih menekankan pada pembelajaran teknik dasar dengan kriteria keberhasilan yang sudah ditentukan. Dalam hal ini, guru tidak akan memperhatikan bagaimana agar setiap anak mampu melakukannya, sebab cara melatih teknik dasar yang bersangkutan hanya dilakukan dengan cara tunggal. Beberapa anak mungkin bisa mengikuti dan menikmati cara belajar yang dipilih guru tadi. Tetapi sebagian lain merasa selalu gagal, karena bagi mereka cara latihan tersebut terlalu sulit, atau terlalu mudah.

Anak-anak yang berhasil akan merasa puas dari cara latihan tadi, dan segera menyenangi permainan sepak bola. Tetapi bagaimana dengan anak-anak lain yang kurang berhasil? Mereka akan serta merta merasa bahwa permainan sepak bola terlalu sulit dan tidak menyenangkan, sehingga mereka tidak menyukai pelajaran dan permainan sepak bola tadi. Apalagi bila ketika mereka melakukan latihan yang gagal tadi, mereka selalu diejek oleh teman-teman yang lain atau bahkan oleh gurunya sendiri.

Anak-anak dalam ‘kelompok gagal’ ini biasanya mengalami perasaan negatif. Akibatnya, citra diri anak tidak berkembang dan anak cenderung menjadi anak yang rendah diri. Melalui pembelajaran pendidikan jasmani yang efektif, semua kecenderungan tadi bisa dihapuskan, karena guru memilih cara agar anak yang kurang terampil pun tetap menyukai latihan memperoleh pengalaman sukses. Di samping guru membedakan bentuk latihan yang harus dilakukan setiap anak, kriteria keberhasilannya pun dibedakan pula. Untuk ‘kelompok mampu’ kriteria keberhasilan lebih berat dari anak yang kurang mampu, misalnya dalam pelajaran renang di tentukan: mampu meluncur 10 meter untuk anak mampu, dan hanya 5 meter untuk anak kurang mampu.

Dengan cara demikian, semua anak merasakan apa yang disebut “perasaan berhasil” tadi, dan anak makin menyadari bahwa kemampuannya pun meningkat, seiring dengan seringnya mereka mengulang-ulang latihan. Cara ini disebut gaya mengajar ‘partisipatif’ karena semua anak merasa dilibatkan dalam proses pembelajaran. Untuk mencegah terjadinya bahaya lain dari kegagalan, guru pendidikan jasmani harus mengembangkan cara respons siswa terhadap anak yang gagal dan melarang siswa untuk melemparkan ejekan pada temannya.

C. Dasar Falsafah Pendidikan Jasmani

Pendidikan jasmani merupakan suatu bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan umum. Lewat program penjas dapat diupayakan peranan pendidikan untuk mengembangkan kepribadian individu. Tanpa penjas, proses pendidikan di sekolah akan pincang.

Sumbangan nyata pendidikan jasmani adalah untuk mengembangkan keterampilan (psikomotor). Karena itu posisi pendidikan jasmani menjadi unik, sebab berpeluang lebih banyak dari mata pelajaran lainnya untuk membina keterampilan. Hal ini sekaligus mengungkapkan kelebihan pendidikan jasmani dari pelajaran-pelajaran lainnya. Jika pelajaran lain lebih mementingkan pengembangan intelektual, maka melalui pendidikan jasmani terbina sekaligus aspek penalaran, sikap dan keterampilan.

Ada tiga hal penting yang bisa menjadi sumbangan unik dari pendidikan jasmani, yaitu:

  • meningkatkan kebugaran jasmani dan kesehatan siswa,
  • meningkatkan terkuasainya keterampilan fisik yang kaya, serta
  • meningkatkan pengertian siswa dalam prinsip-prinsip gerak serta bagaimana menerapkannya dalam praktek.

Adakah pelajaran lain (seperti bahasa, matematika, atau IPS) yang bisa menyumbang kemampuan-kemampuan seperti di atas?

Untuk meneliti aspek penting dari penjas, dasar-dasar pemikiran seperti berikut perlu dipertimbangkan:

1. Kebugaran dan kesehatan

Kebugaran dan kesehatan akan dicapai melalui program pendidikan jasmani yang terencana, teratur dan berkesinambungan. Dengan beban kerja yang cukup berat serta dilakukan dalam jangka waktu yang cukup secara teratur, kegiatan tersebut akan berpengaruh terhadap perubahan kemampuan fungsi organ-organ tubuh seperti jantung dan paru-paru. Sistem peredaran darah dan pernapasan akan bertambah baik dan efisien, didukung oleh sistem kerja penunjang lainnya. Dengan bertambah baiknya sistem kerja tubuh akibat latihan, kemampuan tubuh akan meningkat dalam hal daya tahan, kekuatan dan kelentukannya. Demikian juga dengan beberapa kemampuan motorik seperti kecepatan, kelincahan dan koordinasi.

Pendidikan jasmani juga dapat membentuk gaya hidup yang sehat. Dengan kesadarannya anak akan mampu menentukan sikap bahwa kegiatan fisik merupakan kebutuhan pokok dalam hidupnya, dan akan tetap dilakukan di sepanjang hayat. Sikap itulah yang kemudian akan membawa anak pada kualitas hidup yang sehat, sejahtera lahir dan batin, yang disebut dengan istilah wellness.

Konsep sehat dan sejahtera secara menyeluruh berbeda dengan pengertian sehat secara fisik. Anak-anak dididik untuk meraih gaya hidup sehat secara total serta kebiasan hidup yang sehat, baik dalam arti pemahaman maupun prakteknya. Kebiasaan hidup sehat tersebut bukan hanya kesehatan fisik, tetapi juga mencakup juga kesejahteraan mental, moral, dan spiritual. Tanda-tandanya adalah anak lebih tahan dalam menghadapi tekanan dan cobaan hidup, berjiwa optimis, merasa aman, nyaman, dan tenteram dalam kehidupan sehari-hari.

2. Keterampilan fisik

Keterlibatan anak dalam asuhan permainan, senam, kegiatan bersama, dan lain-lain, merangsang perkembangan gerakan yang efisien yang berguna untuk menguasai berbagai keterampilan. Keterampilan tersebut bisa berbentuk keterampilan dasar misalnya berlari dan melempar serta keterampilan khusus seperti senam atau renang. Pada akhirnya keterampilan itu bisa mengarah kepada keterampilan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

3. Terkuasainya prinsip-prinsip gerak

Pendidikan jasmani yang baik harus mampu meningkatkan pengetahuan anak tentang prinsip-prinsip gerak. Pengetahuan tersebut akan membuat anak mampu memahami bagaimana suatu keterampilan dipelajari hingga tingkatannya yang lebih tinggi. Dengan demikian, seluruh gerakannya bisa lebih bermakna. Sebagai contoh, anak harus mengerti mengapa kaki harus dibuka dan bahu direndahkan ketika anak sedang berusaha menjaga keseimbangannya. Mereka juga diharapkan mengerti mengapa harus dilakukan pemanasan sebelum berolahraga, serta apa akibatnya terhadap derajat kebugaran jasmani bila seseorang berlatih tidak teratur?

Namun demikian, sumbangan pendidikan jasmani pun bukan hanya bersifat fisik semata, melainkan merambah pada peningkatan kemampuan oleh pikir seperti kemampuan membuat keputusan dan olah rasa seperti kemampuan memahami perasaan orang lain (empati).

4. Kemampuan berpikir

Memang sulit diamati secara langsung bahwa kegiatan yang diikuti oleh anak dalam pendidikan jasmani dapat meningkatkan kemampuan berpikir anak. Namun demikian dapat ditegaskan di sini bahwa pendidikan jasmani yang efektif mampu merangsang kemampuan berpikir dan daya analisis anak ketika terlibat dalam kegiatan-kegiatan fisiknya. Pola-pola permainan yang memerlukan tugas-tugas tertentu akan menekankan pentingnya kemampuan nalar anak dalam hal membuat keputusan. Taktik dan strategi yang melekat dalam berbagai permainan pun perlu dianalisis dengan baik untuk membuat keputusan yang tepat dan cepat. Secara tidak langsung, keterlibatan anak dalam kegiatan pendidikan jasmani merupakan latihan untuk menjadi pemikir dan pengambil keputusan yang mandiri.

View full article »

Tehnik dasar permainan sepakbola merupakan pondasi dari teknis permainan sepakbola yang dimengerti, dikuasai serta direalisir diatas lapangan permainan, dikerjakan secara sederhana dan dikembangkan secara pribadi hal ini akan menjadi dasar kerjasama antar regu yang lebih kompak.
Urutan penekanan dalam permainan sepakbola adalah pemantapan dan penguasaan keterampilan teknik bermain sepakbola. Keterampilan secara umum diartikan sebagai kemampuan melakukan sesuatu dengan mantap,tepat guna dan efektif, yang diperoleh dari hasil pengetahuan dan latihan atau proses belajar.
“Keterampilan atau skill adalah tindakan yang memerlukan aktivitas gerak dan harus dipelajari agar mendapatkan bentuk yang benar…..selain itu keterampilan juga merupakan indikator dari kualitas (performance) seseorang (yanuar Kiram, 1992:11)”.
Untuk dapat pengertian apa itu “keterampilan” maka perlu lebih dahulu diketahui apa yang dimaksud dengan belajar. Seseorang pemain yang berlatih, berarti ia belajar tentang gerakan-gerakan permainan yang dilatihkan kepadanya. Seorang pemain sepakbola yang berlatih, misalnya melatih menggiring bola, berarti ia sedang menggiring bola. Belajar adalah usaha atau kegiatan dari setiap orang yang dapat menghasilkan perubahan tingkah laku, Dikatakan :
Seseorang telah belajar apabila ia dapat melakukan sesuatu yang tak dapat dilakukan sebelum ia belajar atau bila kelakuannya berubah, kelakukan diambil dalam arti luas dan melingkup pengamatan pengenalan, pembuatan, keterampilan, perasaan, terjemahan Nasution, 1982 : 60).
Dari tinjauan diatas dapat disimpulkan bahwa dengan belajar terjadi perubahan tingkah laku, perubahan ini bisa berupa pengetahuan, kecakapan, sikap dan kebiasaan, keterampilan, pengertian, penyesuaian diri maupun segala sesuatu mengenai aspek organisme pribadi diri yang bersangkutan. Jadi seseorang yang telah belajar pada hakekatnya ia telah berubah, tidak sama lagi dengan keadaan dirinya sebelum belajar. Ia tidak sanggup memecahkan masalah atau kesulitan yang dihadapinya, atau mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang baru
Keterampilan dalam bermain sepakbola adalah suatu bentuk keterampilan yang didasarkan pada teknik bermain sepakbola dengan baik. Karena untuk mencapai suatu prestasi bermain yang baik harus didukung oleh adanya keterampilan teknik dasar bermain sepakbola. Daya tarik pertandingan sepakbola terletak pada segi penguasaan teknik yang ditampilkan kedua kesebelasan yang bertanding. Sebagai mana yang dikemukakan oleh Wiel Coerver yang artinya sebagai berikut :
Meskipun tidak ada cabang olahraga yang demikian kompleks seperti sepakbola, sehingga untuk dapat bermain menarik kebutuhan penguasaan bermacam-macam teknik…..sehingga kemampuan para pemain yang terbatas disegi teknik ikut memainkan peranan. Hal ini menyebabkan pertandingan tidak nampak menarik. )Wiel Coerver,terjemahan oleh kadir jusuf 1985 : 137).

Yang termasuk teknik dasar dalam permainan sepakbola antara lain menendang bola, menggiring bola, mengontrol bola dan lain-lain. Namun pada dasarnya untuk dapat meningkatkan keterampilan tersebut maka diperlukan latihan-latihan yang teratur dan sistematis melalui bentuk-bentuk latihan yang relevan dengan teknik keterampilan yang dilatihkan.
Olahraga dan politik pada saat ini sulit dipisahkan, intervensi pemerintahan dalam olahraga lebih diutamakan pada tujuan pemeliharaan ketertiban, meningkatkan kesegeran jasmani, mempromosikan prestise, membentuk rasa solidaritas sosial didalam kelompok. Olahraga sering digunakan untuk alat pengumpul massa, salah satunya olahraga sepakbola.
Dari berbagai metode yang diterapkan sehingga diharapkan mampu mengangkat prestasi olahraga khususnya sepakbola. Dengan acuan seperti ini nilai politik dalam perkembangan olahraga sepakbola sangat besar fungsinya untuk melihat dalam jangka panjang apakah sepakbola di negara ini mampu untuk berprestasi pada kanca Internasional. Dengan ini perlu pengkajian-pengkajian secara ilmiah dari metode yang telah dikemukakan diatas, sehingga nilai politik sangat besar peranannya dalam perkembangan olahraga sepakbola.

1. Nilai Kesehatan
Dalam era kemajuan yang sangat pesat dimana aktivitas dan kesibukan setiap orang meningkat untuk menghadapi tuntutan kebutuhan semakin hari semakin ketat persaingannya. Dari persaingan ini ditambah dengan adanya produk-produk yang baru sehingga semakin larut dengan pekerjaan dalam rangka pemenuhan kebutuhan.
Dari kondisi seperti ini masyarakat sangat sadar akan pentingnya kesehatan, sehat bisa tercapai salah satunya adalah menjaga kebugaran jasmani. salah satu solusi dalam menjaga kebugaran dalam beraktivitas adalah olahraga dan menjadi salah satu kebutuhan dalam esistensi kehidupan.
Salah satu definisi kebugaran atau Fitness menurut Committee on Exercise dari American Heart Association, adalah kapasitas tubuh secara umum dalam menghadapi kerja fisik baik dalam posisi bergerak maupun duduk dengan aman dan efektif dan masih dapat memenuhi fungsinya dalam keluarga maupun masyarakat, serta dapat menikmati kegiatan rekreasi pilihannya tanpa merasa kelelahan, sedangkan definisi kebugaran menurut Thomas B Quigley, MD, adalah suatu kualitas kondisi fisik yang memungkinkan seseorang mampu menghadapi tantangan hidup dari lingkungannya secara total, berprestasi, dan memiliki fisik yang sehat. Hal itu berarti mereka dapat menahan tekanan dari lingkungannya tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan dan masih memiliki sisa energi untuk bermain.
Secara fisiologis tekanan terhadap kerja fisik dapat berupa perubahan pada sistem kerja jantung dan paru (sistem kardiorespirasi), perubahan hormonal, dan sistem energi yang digunakan. Hal ini juga dipengaruhi oleh kesiapan dan kesesuaian struktur tubuh terhadap beban kerja atau tugas fisik yang dilakukan.
Batas tertinggi bagi sebagian besar mekanisme tubuh untuk menerima stress (tekanan), dan bagaimana mekanisme tubuh dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan yang disebabkan oleh aktivitas fisik, seperti olahraga akan sangat dipengaruhi oleh kesesuaian struktur tubuh dan kemampuan aspek fisiologisnya. Giam (1988), Guyton (1994) dan Fahey (1999). Seorang yang bugar ditandai dengan tubuh yang tidak mengandung banyak jaringan lemak, tulangnya kokoh dan padat, otot-otot yang kuat, dan memiliki persendian yang teguh serta sistem pernafasan berdaya tahan tinggi.
Sementara itu kebugaran yang rendah terdiri dari : (a) struktur anatomi tidak efisien, ditandai dengan adanya pronasi, toeing-out pada kaki, struktur tulang belakang tidak normal (b) kesiap siagaan dan stabilitas emosi rendah, yaitu kurang konsentrasi, mudah tersinggung dan terkejut (c) daya tahan sistem kardiorespiratory yang rendah, kondisi yang mudah lelah meskipun dengan aktivitas yang sangat ringan.(d) sistem metabolisme kurang efisien, ditandai dengan kadar kolesterol, trigliserida yang tinggi, dan gula darah tidak normal.
2. Nilai Bisnis
Praduga, bahwa olahraga merupakan salah satu jalan menuju sukses nampaknya mulai diakui. Kebanyakan orang dapat menjadikan suatu kebenaran. Horatio Alger berhasil memadukan antara prestasi pendidikan dan olahraga. Dia menjadi terkenal karena prestasi pendidikan dan olahraga yang menjadikannya yang kaya.
Komersialisasi telah merubah olahraga menjadi suatu bisnis yang unik. Membiaskan arti kompetisi dengan kebaikan umum untuk meningkatkan kekayaan dan kekuasaan para pengusaha. Atlit lebih berfungsi sebagai penghibur, oleh karena itu dituntut prestasi yang tingi dan memperoleh upah dari penampilannya.
Dalam berbagai usaha bisnis yang berkembang saat ini, baik yang menghasilkan barang maupun jasa, peran pemasaran sangatlah penting karena merupakan salah satu faktor kunci penentu keberhasilan bisnis dengan kata lain pemasaran merupakan inti dari aktivitas bisnis. Perkembangan selanjutnya terhadap defenisi dan konsep pemasaran adalah bagaimana memahami pemasaran sebagai budaya yaitu seperangkat nilai dan kepercayaan mendasar tentang pentingnya pelanggang bagi institusi bisnis.
Meninjau pemasaran sebagi suatu sarana dari komonikasi yang jujur yang dapat menciptakan suatu gambaran tanggungjawab sosial yang khusus dari suatu produk olahraga adalah cara yang terbaik untuk memposisikan produk olahraga di pasar, pasar olahraga terdiri dari :
a. Para peserta, para pemain, para penonton dan para sukarelawan
• Para peserta seperti atlet, pelatih, juri dan wasit
• Para penonton, penonton di stadion, penonton televisi, pendengar radio serta pembaca koran dan majalah
• Para sukarelawan, penerima tamu pada efen olahraga, pencatat statistik dan para manajer regu.
b. Para sponsor, para pemasang iklan dan produk
• Pemasang iklan, menggunakan olahraga untuk mencapai sasaran dan mengkomonikasikan produk mereka kepada penonton sebagai contoh pemasangan bendera dan tanda-tanda lain di stadion, pemasangan advertensi di televisi dan radio. Melalui media massa , peliputan olahraga dapat dengan mudah diketahui masyarakat. Demikian sebaliknya dengan olahraga merupakan alat untuk membangun media massa atau sebaliknya.
• Sponsor yang berbadan hukum, Menggunakan olahraga untuk mencapai sasaran dan mengkomonikasikan gambaran khusus tentang produk mereka kepada kelompok besar seperti contoh Bank Mandiri sebagai sponsor pada liga Indonesia.
• Produk dengan persetujuan atlet dan produk dengan lisensi, mengguinakan perorangan dan selebritis olahraga atau simbol-simbol khusus, logo dan merk produk yang telah dikenal oleh pelanggan secara populer.
Dari beberapa uraian diatas sangatlah jelas bahwa perkembangan olahraga khususnya sepakbola menjadi nilai bisnis yang dapat menopang kehidupan dan menjadi suatu sumber mata pencaharian sebagai masa depan dari semua unsur yang berkompoten dalam olahraga baik pelatih, pemain, wasit bahkan pengelola sarana olahraga.
Kita melihat berapa banyak orang terkenal dan terkaya yang punya penghasilan yang sungguh luar biasa besarnya dibanding dengan pejabat pemerintahan, itu semua diraih dari profesionalnya sebagi pemain sepakbola dan beberapa pengusaha yang berkeinginan untuk membeli suatu klub yang terkenal sebagai contoh seperti Arsenal, Manchester United, Barcelona, Real Madrid, dan lain-lain, sehingga dari segi bisnis olahraga khususnya sepakbola merupakan suatu fenomena yang mempunyai prospek cerah kearah yang akan datang.

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG.
Mekanisme sensoris dan proses pengontrolan gerak system terbuka, dimana system syaraf pusat ikut terlibat, sementara informasi sensoris tidak begitu memegang peranan.
Pembahasan tentang model belajar keterampilan motorik akan lebih jelas apabila telah dipahami beberapa prinsip tentang system pengontrolan gerak itu sendiri. Fenomena gerak manusia dapt dipahami sebagai respon motorik yang terjadi berdasarkan pada pengintegrasian secara simultan dan kerja sama dari berbagai bagian anatomi (misalnya otot-otot terusannya). Perpaduan beberapa bagian yang terpisah, namun terkait itu disebut pula dalam istilah koordinasi. Untuk memudahkan kita memahami gejala yang amat kompleks itu. Maka ada baiknya berbagai elemen yang terkait satu sama lain sebagai sebuah system dari prilaku mesti dikaji secara keseluruhan. Seprti halnya sebuah mesin, tubuh manusia juga diibaratkan sebuah system, yakni terdiri dari berbagai, dan setiap bagian itu saling terkait satu sama lain untuk membangun fungsi umum.
B. RUMUSAN MASALAH.
Setelah memahami isi dari sebuah latar belakang yang ditulis di atas maka dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut :
1. Apakah pengontrolan gerak system terbuka perlu dikaji secara keseluruhan?
2. Apakah dalam pengontrolan gerak manusia hanya memiliki pengontrolan system tertutup saja?
3. Apakah dalam pengontrolan gerak system terbuka melibatkan system syaraf pusat juga?
C. TUJUAN PENULISAN.
1. Untuk mengetahui apakah pengontrolan gerak system terbuka dikaji secara keseluruhan.
2. Untuk mengetahui apakah betul ada pengontrolan system terbuka dalam gerak manusia!
3. Untuk mengetahui sampai sejauh mana peran system syaraf pusat terhadap pengontrolan gerak system terbuka!
D. MANFAAT PENULISAN.
1. Agar dijadikan sebagai bahan diskusi dan dapat membantu dalam para mahasiswa maupun dosen dalam menambah wawasan pengetahun khususnya tentang pengontrolan gerak system terbuka.
2. Dapat lebih mudah mempelajari ilmu tentang pengontrolan gerak system terbuka.
3. Untuk mengetahui arti dari gerak system terbuka itu sendiri.
4.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PROSES SISTEM TERBUKA.
Prinsip dasar dari proses pengontrolan gerak system terbuka dapat ditelusuri dalam gagasan yang terkandung dalam hipotesis rangkaian-respon yang dikembangkan William james (1890) pada abad ke-19.
Menurut james, suatu gerakan dimulai dari signal eksternal atau internal yang menyebabkan kontraksi sebuah otot atau sekelompok otot. Kontraksi tersebut membangkitkan informasi sensoris (disebutkannya dalam istilah response-produced) dan otot-otot atau dari gerkan-gerakan tang dihasilkan oleh otot-otot yang berkontraksi.
Umpan balik tersebut kata james, dianggap sebagai rangsang informasi seperti halnya rangsang lain seperti cahaya atau suara, yang kemudian berfungsi sebagai “trigger” atau pemacu bagi kontraksi berikutnya. Pada tahap berikutnya kontraksi otot tersebut juga menghasilkan respons umpan balik yang memacu kontraksi ketiga. Begitu seterusnya.
Dari mana asalnya umpan balik tersebut? Umpan balik yang merangkaikan respons berikutnya itu berasal dari berbagai sumber (yaitu. Pilinan otot, reseptor persedian, atau bahkan penglihatan dan pendengaran), dan dapat memacu respons pada bagian tubuh yang sama atau berbeda. Dengan mekanisme semacam itu kata James, dijelaskan bahwa rangkaian gerak yang serasi dalam suatu keterampilan berlangsung karena sebelum kontraksi pertama selesai, kontraksi kedua tidak akan terjadi. James juga menjelaskan bahwa mekanisme tersebut juga dapat diaggap sebagai pengatur waktu diantara beberapa kontraksi yang sedemikian penting bagi kelangsungan suatu keterampilan. Penetapan fase semacam ini rupanya ditentukan oleh selang waktu dalam beberapa proses sensoris dan berlangsung secara konsisten dari suatu respons ke respons sehingga dihasilkan tindakan yang konsisten.
Memang ada pendapat yang mengatakan bahwa model tersebut di atas hanya cocok untuk memahami fenomena keterampilan yang berlangsung dalam tempo lamban dan berkesinambungan, misalnya mengemudi kendaraan. Tapi Schmidt (1988) misalnya mengemukakan sungguh mungkin model itu dipakai guna memahami fenomena gerak yang dilakukan dalam tempo yang cepat seperti gerak kesekumpulan otot yang diaktifkan untuk berbicara atau melempar sebuah benda. Asumsi yang melandasi proses kelangsungan gerak yang cepat juga sama yakni respons yang dipacu adalah kontraksi dari uniy-unit motorik yang bersangkutan.
Kalau kita telaah secara mendalam, hipotesis rangkaian respon pada kenyataanya merupakan salah satu bentuk dari pengontrolan gerak berdasarkan proses system terbuka. Kendatipun dalam hipotesis itu dimasukkan unsur umpan balik. Jka kita periksa kembali prinsip pengontrolan gerak system tertutup.maka tingkat eksekutif bertindak terhadap eror yang dihasilkan, dan berdasarkan eror itu kemudian dihitung seberapa banyak selisih yang terjadi antara gerak yang terjadi dan gerak yang diharapkan sesuai dengan rujukan yang dipakai. Dalm hipotesis rangkaian respons, memang tidak ada rujukan yang benar sebagai kreteria umpan balik yang garak, dan umpan balik itu sendirilah yang berperan sebagai pemacu bagi aksi berikutnya. Proses semacam itu tak lain ialah system terbuka, karena stimulus asal menciptakan rangkaian dalam gerak dan peristiwa berikutnya ditentukan oleh asosiasi yang dipelajari antara lain, suatu perubahan tidak dapat dilakukan meskipun terjadi kesalahan atau lingkungan mengalami perubahan.
1. Pemutusan syaraf afferent.
Metode mutakhir untuk menguji pengaruh pemutusan arus informasi sensoris yaitu melalui operasi. Melalui operasi yang disebut dorsal rhizotomi bagian punggung binatang dioperasi dan otot-otot terbuka secara cermat sehingga Nampak akar-akar dorsal. Kemudian pada tingkat spinal yang dikehendaki, akar-akar dorsal dipotong dengan maksud agar informasi sensoris tidak dapat mencapai spinal cord yang bersangkuta. Prosedur itu telah dilakukan terhadap kucing, kera dan binatang lain untuk mempelajari efek pemutusan syaraf afferent terhdap pengontrolan gerak.
2. Pemutusan Syaraf Afferent Pada Manusia.
Pada manusia, eksperimen semacam itu memang amat terbatas kemungkinannya untuk dilakukan, namun beberapa contoh yang menunjukkan terjadinya deafferentation juga dapat dikemukakan, seperti hasil study Lashley (1917) terhdap pasien yang terluka karena temabakan pada tulang punggung bagian bawah. Bagian yang terluka itu menimbulkan akibat yang serupa dengan pemutusan syaraf afferent melalui prosedur operasi yakni terputusnya mata rantai umpan balik dari gerakan anggota tubuh. Pada pasien yang menderita kangker operasi pemutusan syarafafferent juga bisa dilaukan untuk menghilangkan rasa sakit. Herman (1979)telah melakukan penelitian terhadap control anggota tubuh yang mengalami pemutusan syaraf afferent. Hasilnya mendukung penemuan terdahulu.
Kendatipun hasil sejumlah penelitian tentang efek pemutusan syaraf afferent dengan jelas menunjukkan bahwa umpan balik dari bagian tubuh yang merespons tak penting bagi kelangsungan gerak, tapi bukti-bukti semcam itu sering tak memadai untuk menyimpulkan bahwa umpan balik pada umumnya tak pernah dipakai untuk mengontrol suatu gerakan. Pada hewan, efek dari pemutusan syaraf afferent ialah hilangnya control terhadap gerakan yang halus. Menurut adams (1971, 1976b) bahwa mungkin ada umpanbalik sebagai pengganti hilangnya sensasi akibat pemutusan arus informasi sensoris pada syaraf afferent.
B. KONTROL TERHADAP GERAK CEPAT
Masalah lain yang menarik perhatian para ahli yaitu bagai mana pengontro;an gerak cepat. Misalnya ayunan alat pemukul dalm baseball yang berlangsung selama 100 mildetik atau kecepatan pukulan jab Mohammad Ali (40 milidetik), hal ini merupak contoh dari gerakan cepat yang sering kita alami dalam peaksanaan tugas gerak sehari-hai atau dalam kegiatan olahraga. Studi di laboratrium terhadapa gerakan yang cepat itu bisa dilakukan misalnya saja, tugas gerak meluruskan siku dari posisi tertentu akan menyebabkan ujung tangan bergerak dari posisi asal ke posisi berikutnya sepanjang 30 cm. gerakan tersebut seolah-olah amat sederhana namun aktivitas neurologis yang terait dengan tugas gerak itu sedemikian kompleks.
Seperti dijelaskan Schmidt (1988) beberapa contoh hasil study para peneliti dapat dikemukakan, tapi hasil study akhir-akhir ini yang dilakukan Wadman, Danniesr Van der Gon, Geuze dan Mol (1979) dianggap sangat berhasil untuk menggambarkan peristiwa aktivitas neurologis di balik pelaksanaan tugas gerak.
1. Masalah Derajat Kebebasan Gerak.
Satu keberatan yang muncul dalam model pengontrolan gerak system tertutup dan model lain yang berpendapat bahwa kontraksi dari beberapa kelompok otot ditangani oleh komanado dari system syaraf yang lebih tinggi, mula-mula dilontarkan oleh ahli faal Rusia, Bernstein yang ditulisnya pada tahun 1940-an (diterjemahkan pada tahun 1967). Pokok gagasan ialah bahwa system memiliki sedemikian banyak kondisi independen yang harus dikontrol pada saat bersamaan. Keadaan independen ini biasa disebut derajat kebebasan. Maksudnya ialah setiap persendian mampu untuk bergerak secara independen paing tidak memiliki satu derajat kebebasan yang harus dikontrol dalam satu tindakan.seperti diuraikan Schimdt (1988) beberapa persendian dalam kenyataannya memiliki 2 derajat kebebasan seperti pada bahu yang dapat membiarkan tangan bergerak dalam setengah ruang gerak, dan memutar ruas lengan secara bebas. Mengapa demikian? Hal ini karena setiap persendian memiliki sejumlah otot yang bekerja pada persendian yang bersangkutan dan setiap otot-otot ini terbangun oleh ratusan unit motorik yang harus dikonrol. Keadaan demikian hamper-hampir mustahil dapat dikontrol secara terpisah oleh keputusan yang disadari (Green, 1972, Scmindt 1989).
Berdasarkan gejala dari luar ketika kita melakukan suatu gerakan yang menjadi pusat perhatian kita ialah bukan bagian tubuh atau otot-otot yang kita pergunakan, tetapi sasaran atau hasil yang ingin kita capai serta cara atau pola gerak yang akan kita lakukan.kita tak menyadari kelomok otot mana atau unit motorik tertentu yang terlibat. Karena itu jika araf eksekutif tidak bertanggung jawab untuk mengontrol kebebasan bagian-bagian tubuh untuk bergerak, bagaimana derajat kebebasan yang sedemikian banyak itu terkontrol dan bagaimana suatu keterampilan dilakukan dengan baik melaluli pengorganisasian otot-otot yang terkait dan persendian bisa diperoleh?
2. Keterbatasan dalam Kecepatan Pemrosesan Informasi.
Kita masih menguji keabsahan model pengontrolan gerak system terbuka. Muncul lagi argument terhadap ide yang terkandung didalamnya bahwa beberapa tingkat eksekutif secara langsung menyela “kerja” otot triceps dan merangsang biceps untuk aktif. Berkaitan dengan waktu yang tersedia untuk membangkitkan waktu yang tersedia tahap-tahap pemprosesan informasi membutuhkan waktu cukup bagi stimulus yang berasal dari lingkungan untuk memulai mengahasilkan beberapa respons baru seperti “mematikan” kerja biceps dan “menghidupkan” triceps seperti terekam dengan EMG. Model ini rupanya hanya cocok bagi gerakan yang lambat. Bagi suatu gerakan yang cepat model tersebut kayanya kurang sesuai karena tugas gerak sudah selesai sementara pemprosesan informasi masih berlangsung. Kata Schmidt (1988) beberapa proses mesti terlibat dalam pengaktifan beberapa kelompok otot.
Meskipun demikian, kata Schmidt (1988) terdapat kemungkinan ola gerak semacam itu ditentukan oleh penyesuaian refleksif yang ditangani pada tingkat yang lebih rendah dalam system motorik.
3. Modifikasi dalam Respons Cepat.
Dalam bagia ini akan kita bahas beberapa bukti yang menunjukkan kemampuan seseorang untuk mengubah suatu gerakan begitu telah dilakasanakan.
Kita dapat mengemukakan beberapa contoh tentang otomisasi yang terjadi dalam pelaksanaan tugas gerak tertentu. Seseorang pemain piano yang sudah amat mahir dapat memainkan tot piano tanpa disadarinya bahwa ada diantaranya yang sudah rusak. Jika kita mengancing baju kita, sangat mungkin kita tak menyadari bahwa ada diantara kancing baju sudah lepas jari-jari kita terus saja mengancing buah kancing hingga selesai. Kedua ilustrasi tersebut menunjukkkan, bahwa proses pelaksanaan tugas gerak sama sekali tidak membutuhkan umpanbalik dari pelaksanaan gerak itu sendiri. Tentu saja contoh tersebut kurang bagus, karena bukan merupakan kata yang solid. Bukti-bukti eksperimen yang kita butuhkan.
Eksperimen Henry dan Harrison (1961) sangat cocok untuk menguji kebenaran hipotesis tentang efek pemeberian aba-aba yang diberikan sebelum suatu gerakan dimulai terhadap perubahan gerak. Dengan tidak memaparkan prosedur eksperimen yang mereka lakukan kita sampai pada kesimpulan penelitiannya, bahwa sebuah sinyal yang dihadirkan sebelum gerakan dilakukan tidak efektif dalam perubahan gerak tertentu, meskipun gerak itu berakhir hingga 199 milidetik.
Peranan mata dalam proses pengontrolan gerak juga menjadi perhatian para ahli. Hal ini disebabkan karena hasil pengindraan stimulus dengan mata begitu penting dalam berbagai kegiatan. Juga teramasuk penampilan gerak dalam olahraga. Satu contoh penelitian yang paling dikenal tentang seberapa jauh peranan mata yakni study yang dilakukan oleh Keeled an Posner (1968). Sekedar untuk memberikan gambaran umum, kedua peneliti tersebut menyuruh subyek yang menjadi anggota sampel untuk mengerakkan sebuah jarum penulis (semacam pensil) kesebuah target dengan jarak beberapa sentimeter. Waktu gerak (WG) yang diperlakukan telah diketahui dan subyek dilatih untuk menggerakkan alat tersebut dalam waktu terpisah masing-masing 150, 250, 350, atau 450 milidetik. Jika subyaek telah mahir dan menguasai beberapa WG tersebut, untuk selanjutnya peneliti memadamkan lampu ketika subyek telah meninggalkan posisi awal sehingga gerakan dimulai dalam keadaan gelap. Landasan pemikiran ialah jika dalam kondisi 250 milidetik, misalnya kondisi lampu menyala menghasilkan lebih sedikit eror geraka ketimbang eror dalam kondisi lampu mati. Maka hal itu berarti bahwa penglihatan dipergunakan dalam mengontrol gerakan. Sebaliknya, jika tak diperoleh cahaya terang implikasi kondisi tersebut ialah bahwa penglihatan tak dipergunakan, dan waktu pemprosesan umpanbalik visual lebih besar dari pada WG. Berdasarkan data yang mereka kumpulkan, maka diperoleh kesimpulan bahwa ketika WG 190 milidetik atau kurang, penglihatan terhadap posisi tangan atau target tidak memberikan kontribusi terhadap control gerak dan umpanbalik visual membutuhkan sekurangnya 190 milidetik untuk diproses. Tatkala WG meningkat, satu keuntungan besar diperoleh ketika lampu dinyalakan. Artinya ialah penglihata itu dipakai jika waktu yang tersedia cukup untuk mendeteksi kesalahan yang terjadi untuk dikoreksi. Jadi kedua peneliti, mengemukakan, bahwa yang dibutuhkan untuk memproses informasi umpanbalik antara 190 dan 260 milidetik.
C. PERENCANAAN JAUH SEBELUM SUATU GERAKAN
Model ini menunjukkan bahwa ada tahap yang harus dilalui secara lengkap dan tak akan dicapai pada tahap berikutnya sebelum tahap terdahulu selesai ditempuh, implikasi penting dalam tahap itu adalah jika suatu gerakan tubuh yang kompleks dilakukan dan dibutuhkan sejumlah waktu untuk menyelesaikan suatu gerak yang kita namakan waktu gerak, maka akan selalu waktu tenggang waktu antara stimulus dan saat memulai gerakan. (yakni, Waktu Reaksi atau WR seperti yang dijelaskan Henry rogers 1960). Semakin kompleks suatu gerakan dan semakin lama WG, maka semakin lama WR yang dihasilkan.
1. Kontrol Lokomotor.
Grillner (1975) mereview sejumlah hasil penelitian tentang control lokomotor dan gerak spesies ketika berjalan atau berlari. Salah satu diantara study itu tertuju pada persiapan “spinal” pada kucing atau binatang lainnya. Bagian ruasa tulang belakang itu dipotong dibawah otak sehingga fungsi sitem syaraf pusat tidak akan mempengaruhi system yang lebih rendah, dan bahkan sering pula dilakukan bagian ruas tulang belakang itu dioperasi. Jika ruas tulang belakang itu sudah sedemikian siap untuk dirangsang, maka kita dapat menunjukkan gerak secara priodik dalam pengertian aktivitas dalam serabut-serabut efferent muncul dari sisi ventral bagian ruas tulang belakang. Jadi ruas bagian tulang belakang rupanya cukup mampu menghasilkan suatu gerakan yang teratur atau berirama tanpa umpanbalik dari anggota tubuh yang bergerak. Dalam pola gerak anggota tubuh ketika berlari atau berjalan irama yang terjadi pada tingkat ruas tulang belakang ini dipahami sebagai rangsangan pertama motoneuron otot ekstensor dan fleksor lagi yang berlangsung dalam satu pola gerak rupanya gabian ruas tulang belakang itu memiliki sirkuit persyarafan yang kompleks yang mengahasilkan satu pola gerak.sirkuit itu sering disebut dalam istilah central pattern generators atau pusat pembangkit pola.
Memang menarik perhatian untuk menamati pola gerak hewan misalnya ketika berjalan dan berlari. Lalu apa sebenarnya yang terkait dengan pola gerak itu. Hasil penelitian yang diungkapkan oleh Shik, Orlavski dan Severin (1968) menjelaskan bahwa dengan satu teknik operasi pada kucing memungkinkan kita mengamati langsung peristiwa tersebut.
Ada lagi peneliti lain tapi tidak dikemukakan disini. Rupanya yang lebih kita pentingkan ialah bagaimana skema dari pristiwa pengontolan gerak pada mahluk hidup ketika berjalan atau berlari.
Schmidt (1988) menjelaskan dari berbagai bukti yang diperolah nampak konsep penting yang mengotrol keteraturan gerak anggota tubuh jika mahluk hidup berjalan atau berlari. Pola gerak itu dikontrol oleh pola generator yang “tersambung” satu sama lain sehingga gerakan yang lebih detai dapat dikoordinasikan. Kesemua itu dapt diaktifkan oleh beberapa sumber dan dapat berlangsung terus menerus sehingga kemudian semakin mereda dan sepenuhnya dihentikan oleh sumber input lainnya. Pola gerak itu muncul dalam bentuk umum yang tak berubah-ubah, namun pada hewan yang lebih tinggi tingkatannya terdapat kemungkina terjadi modifikasi baik karena system pengaruh syaraf yang lebih tinggi yang menyebabkan gerakan bertambah giat atau lebih bertenaga, maupun pengaruh dari sitem umpanbalik yang lebih rendah yang memungkinkan terjadinya variasi gerak.
Persoalan lain ialah keterlibatan reflek dalam gerak perpindahan tubuh menjadi topic perdebatan dalam sejarah penelitian keterampilan motorik. Pandangan lama, misalnya mengatakan pola kegiatan anggota badan itu dipahami terdiri dari aktivitas reflek yang berdasar (misalnya pendapat Easton, 1972). Pendapat ini berbeda dengan hipotesis rangkaian refleks didalmnya erdapat pengertian bahwa komponen refleks itu merupakan pola gerak yang diturunkan secara genetic seperti Nampak dalam gerakan bayi. Dalam hipotesis rangkaian refleks tercakup berbagai kegiatan meskipun kesemuannya itu dipelajari.
Variasi lain dari konsep reaksi terpacu (triggered reaction) ialah konsep reflek yang berlawanan yang di gambarkan terjadi dalam gerak oleh Forsberg, Grillner dan Gogsinol (1975). Hal ini dapat kita pahami, misalnya ketika seekor kucing berjalan dan tiba-tiba diberikan rangsangan arus listrik yang lemah atau telapak kakinya disentuh ketika sedang mangalami fleksi (kakinya diangkat dan sedang diayunkan kedepan), maka yang terjadi suatu peningkatan pada respons fleksi seperti kucing itu mencoba untuk mengelak sebuah rintangan yang menyebabkan dia berjingkat. Akan tetapi ketika stimulus yang sama diberikan kepada kaki ketika mendarat ketanah (posisi berdiri), maka ada reaksi atau barangkali hanya sedikit ekstensi yang terjadi pada kaki yang teransang. Karena rangsang yang sama menghasilkan dua pola gerak yang berbeda tergantung pada fase gerakan kaki, efek tersebut disebut gejala reflek yang berlawanan. Padaha seperti kita ketahui gerak reflek dianggap sebagai sebuah respons dengan pola tetap terhadap stimulus tertentu. Tapi bukti tersebut diatas tadi menunjukkan respon stimulus tergantung pada lokasi anggota tubuh dalam siklus melangkah. Jadi konsep, control refleks tidak dapat dipakai untuk menjelaskan gejala tersebut.
Ketika gerak berlangsung yang mudah kita pahami yaitu otot memanjang dan memendek. Otot-otot dan tendon yang mencantolkan otot dengan tulang memiliki tingkat kepegasan tertentu otot memiliki seperangkat komponen elastis.
D. PERPADUAN MEKANISME YANG MENDASAR.
Gambaran tentang bagaimana mekanisme gerak yang terjadi pada manusi sudah kita jelaskan meskipun masih terpisah-pisah antara satu dengan yang lainnya. Seolah olah system motorik itu terdiri dari sekelompok mekanisme yang tak berkaitan satu sama lain. Hal ini mungkin terjadi karena para peneliti meneliti beberapa masalah kecil yang terpisah satu sama lain, sehingga tak Nampak satu gamabaran menyeluruh. Namun demikian dari pengamatan sepintas kita melihat bahwa gerak itu berlangsung mulus terpadu kompak satu sama lain ketika menghasilkan keterampilan manusia. Yang menadi pertanyaan kita bagaimana mekanisme tersebut dikombinasikan da dikoordinasikan merupakan focus pembahasan dalam uraian berikut.
Salah satu debat yang cukup berkepanjangan pada tahun 1970-a yaitu terjadi antara centralist yang berpendapat bahea gerak dikontrol oleh pusat penyimpanan program motorik, dan pripheralist yakni orang yang berpendapat bahwa gerak yang dikontrol oleh umpanbalik berlandaskan mekanisme itu sendiri. Masing-masing kelompok mengemukakan argumentasinya. Pihak centralist menunjukkan bukti-bukti yang menyatakan bahwa gerak dapat dihasilkan meskipun tidak ada umpan balik dan pusat pembangkit gerak itu diketahui merupakan pengontrolan gerak berjalan (berlari) pada hewan yang lebih rendah. Sebaliknya, kalangan peripheralist berpendapat, jika umpan balik diabaikan maka penampilan gerak terganggu atau tidak normal dank arena itu bukti dari pusat pembangkit pola gerak kurang kuat. Masing-masing kubu mengajukan hasil eksperimennya.
Seperti yang diutarakan Schmidt (1988), kini perbedaan pendapat sudah tidak tajam lagi bahkan telah ada semacam rekonsiliasi pendapat kedua piha sehingga menjadi sebuah pandangan yang terpadu tentang gerak manusia. Bagaimana sintesis pandangan keduan kelompok yang berbeda akan diabahas dalam bagian berikut
1. Pengaruh Waktu Gerak.
Memang sulit untuk menyimpulkan bahwa gerak manusia pada dasarnya dikontrol oleh model system tertutup, dimana pelaksanaan gerak berlangsung melalui pemprosesan informasi dalam beberapa tahap yang diselesaikan secara utuh dan lengkap.
2. Kontrol Secara Periodik.
Salah satu jalan untuk memecahkan konflik antara kedua aliran itu sentralist vs periferalis ialah dengan cara mengindahkan masing-masing kedua cara pengontrolan gerak. Salah satu contoh ialah ide tentang control secara periodic. Program gerak menyediakan beberapa tindakan, menggerakkan kemudi mobil agar kendaraan masuk garasi tanpa menyenggol pagar lalu kemudian tibanya informasi sensoris dimanfaatkan untuk menentukan kesalahan gerak. Bila informasi yang relefan cukup maka dapat diketahui kesalahan gerak sehingga kemudian dapat dilakukan koreksi baru dan kesalahan dihilangkan dan seterusnya. Dalam teori yang sama diketahui bahwa proses umpan balik megevaluasi informasi sensoris dan menghitung eror dan proses program motorik menghasilkan tindakan dalam anggoa tubuh untuk menyisihkan eror (Schmidt, 1988).
Dalam pelaksanaan suatu gerak yang cepat kearah sebuah target (misalnya dengan waktu gerak sekitar 500 milidetik). Sebuah model yang paling menonjol beranggapan bahwa pada awasl kelangsungan system terbuka bagian tubuh digerakkan menuju sebuah target dan keudian control umpanbalik menjadi penting menjelang tercapainya sasaran akhir. Model ini telah dikemukakan oleh Woodworth (pada tahun 1899)dan versi yang lebih modern dikupas oleh Welford (1968) dan akhir-akhir ini oleh Abrams, Korblum, Wright dan Smith. Kesemua itu menggunakan baik system tertututp maupun system terbuka untuk menjelaskan fenomena gerak.
3. Umpanbalik dan Pelaksanaan Program.
Suatu cara lain untuk memahami bahwa umpan balik dan proses program dianggap bersama-sama yaitu dengan menganggap bahwa proses umpan balik itu pada dasarnya tercakup dalam sebuah proses sitem terbuka. Dalam uraian tentang koreksi berdasarkan kerja pilihan otot dikemukakan disebuah program bagi suatu tindakan berlangsung atas dasar sitem terbuka, namun pada saat bersamaan koreksi atas dasar umpan balik nampaknya juga mungkin berlangsung untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan kecil yang terjadi pada gerakan anggota tubuh.
4. Fleksibilitas Proses Pengotrolan.
Oleh karena terdapat banyak duplikasi dalam system motorik maka meskipun system syaraf pusat tidak berfungsi tubuh kita masih mungkin melakuka gerak, implikasi penting dari duplikasi struktur organisme itu memungkinkan perilaku motorik dapat dilaksanakan kendatipun system utama mengalami kelelahan atau cidera.
Schmidt (1988) menjelskan factor yang paling utamauntuk memiliki proses umpan balik atau pengontrolan melalui pemograman ialahtingkat belajar itu sendiri. Factor lain yang menentukan ialah bahwa dalam pemamnfaatan proses umpanbalik dibutuhkan factor perahatian yang cukup kuat. Control umpanbalik yang terlibat dalam tahap-tahap peprosesan informasi sangat membutuhkan perhatian sehingga tak dapat dielakkan proses tersebut akan diaganggu oleh aktivitas lain yang dilakukan dalam waktu bersamaan. Jika kita kembali pada hipotesis yang mangatakan makin terlatih suatu gerakan akan lebih cenderung dikontrol oleh program motorik. Keuntungannya ialah gangguan dari factor luar akan berkurang.
Pelaksanaan gerak atas dasar system tertutup membutuhkan usaha mental yang kuat (Kahneman, 1973) implikasi dari konsep ini ialah seseorang masing mungkin untuk merespons dalam keadaan letih dengan cara mengalihkan control berdasarkan program motorik, sehingga pelaksanaan gerak itu tanpa kesadaran yang mendalam. Namun demikian efektivitas control motorik. Misalnya dalam pelaksanaan gerak yang sudah rutin seperti menyetir mobil, akan terganggu oleh kegiatan lain. Umpamanya oleh gerak si pengemudi ketika menyulut rokoknya atau menyetel radio.