BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG.
Mekanisme sensoris dan proses pengontrolan gerak system terbuka, dimana system syaraf pusat ikut terlibat, sementara informasi sensoris tidak begitu memegang peranan.
Pembahasan tentang model belajar keterampilan motorik akan lebih jelas apabila telah dipahami beberapa prinsip tentang system pengontrolan gerak itu sendiri. Fenomena gerak manusia dapt dipahami sebagai respon motorik yang terjadi berdasarkan pada pengintegrasian secara simultan dan kerja sama dari berbagai bagian anatomi (misalnya otot-otot terusannya). Perpaduan beberapa bagian yang terpisah, namun terkait itu disebut pula dalam istilah koordinasi. Untuk memudahkan kita memahami gejala yang amat kompleks itu. Maka ada baiknya berbagai elemen yang terkait satu sama lain sebagai sebuah system dari prilaku mesti dikaji secara keseluruhan. Seprti halnya sebuah mesin, tubuh manusia juga diibaratkan sebuah system, yakni terdiri dari berbagai, dan setiap bagian itu saling terkait satu sama lain untuk membangun fungsi umum.
B. RUMUSAN MASALAH.
Setelah memahami isi dari sebuah latar belakang yang ditulis di atas maka dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut :
1. Apakah pengontrolan gerak system terbuka perlu dikaji secara keseluruhan?
2. Apakah dalam pengontrolan gerak manusia hanya memiliki pengontrolan system tertutup saja?
3. Apakah dalam pengontrolan gerak system terbuka melibatkan system syaraf pusat juga?
C. TUJUAN PENULISAN.
1. Untuk mengetahui apakah pengontrolan gerak system terbuka dikaji secara keseluruhan.
2. Untuk mengetahui apakah betul ada pengontrolan system terbuka dalam gerak manusia!
3. Untuk mengetahui sampai sejauh mana peran system syaraf pusat terhadap pengontrolan gerak system terbuka!
D. MANFAAT PENULISAN.
1. Agar dijadikan sebagai bahan diskusi dan dapat membantu dalam para mahasiswa maupun dosen dalam menambah wawasan pengetahun khususnya tentang pengontrolan gerak system terbuka.
2. Dapat lebih mudah mempelajari ilmu tentang pengontrolan gerak system terbuka.
3. Untuk mengetahui arti dari gerak system terbuka itu sendiri.
4.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PROSES SISTEM TERBUKA.
Prinsip dasar dari proses pengontrolan gerak system terbuka dapat ditelusuri dalam gagasan yang terkandung dalam hipotesis rangkaian-respon yang dikembangkan William james (1890) pada abad ke-19.
Menurut james, suatu gerakan dimulai dari signal eksternal atau internal yang menyebabkan kontraksi sebuah otot atau sekelompok otot. Kontraksi tersebut membangkitkan informasi sensoris (disebutkannya dalam istilah response-produced) dan otot-otot atau dari gerkan-gerakan tang dihasilkan oleh otot-otot yang berkontraksi.
Umpan balik tersebut kata james, dianggap sebagai rangsang informasi seperti halnya rangsang lain seperti cahaya atau suara, yang kemudian berfungsi sebagai “trigger” atau pemacu bagi kontraksi berikutnya. Pada tahap berikutnya kontraksi otot tersebut juga menghasilkan respons umpan balik yang memacu kontraksi ketiga. Begitu seterusnya.
Dari mana asalnya umpan balik tersebut? Umpan balik yang merangkaikan respons berikutnya itu berasal dari berbagai sumber (yaitu. Pilinan otot, reseptor persedian, atau bahkan penglihatan dan pendengaran), dan dapat memacu respons pada bagian tubuh yang sama atau berbeda. Dengan mekanisme semacam itu kata James, dijelaskan bahwa rangkaian gerak yang serasi dalam suatu keterampilan berlangsung karena sebelum kontraksi pertama selesai, kontraksi kedua tidak akan terjadi. James juga menjelaskan bahwa mekanisme tersebut juga dapat diaggap sebagai pengatur waktu diantara beberapa kontraksi yang sedemikian penting bagi kelangsungan suatu keterampilan. Penetapan fase semacam ini rupanya ditentukan oleh selang waktu dalam beberapa proses sensoris dan berlangsung secara konsisten dari suatu respons ke respons sehingga dihasilkan tindakan yang konsisten.
Memang ada pendapat yang mengatakan bahwa model tersebut di atas hanya cocok untuk memahami fenomena keterampilan yang berlangsung dalam tempo lamban dan berkesinambungan, misalnya mengemudi kendaraan. Tapi Schmidt (1988) misalnya mengemukakan sungguh mungkin model itu dipakai guna memahami fenomena gerak yang dilakukan dalam tempo yang cepat seperti gerak kesekumpulan otot yang diaktifkan untuk berbicara atau melempar sebuah benda. Asumsi yang melandasi proses kelangsungan gerak yang cepat juga sama yakni respons yang dipacu adalah kontraksi dari uniy-unit motorik yang bersangkutan.
Kalau kita telaah secara mendalam, hipotesis rangkaian respon pada kenyataanya merupakan salah satu bentuk dari pengontrolan gerak berdasarkan proses system terbuka. Kendatipun dalam hipotesis itu dimasukkan unsur umpan balik. Jka kita periksa kembali prinsip pengontrolan gerak system tertutup.maka tingkat eksekutif bertindak terhadap eror yang dihasilkan, dan berdasarkan eror itu kemudian dihitung seberapa banyak selisih yang terjadi antara gerak yang terjadi dan gerak yang diharapkan sesuai dengan rujukan yang dipakai. Dalm hipotesis rangkaian respons, memang tidak ada rujukan yang benar sebagai kreteria umpan balik yang garak, dan umpan balik itu sendirilah yang berperan sebagai pemacu bagi aksi berikutnya. Proses semacam itu tak lain ialah system terbuka, karena stimulus asal menciptakan rangkaian dalam gerak dan peristiwa berikutnya ditentukan oleh asosiasi yang dipelajari antara lain, suatu perubahan tidak dapat dilakukan meskipun terjadi kesalahan atau lingkungan mengalami perubahan.
1. Pemutusan syaraf afferent.
Metode mutakhir untuk menguji pengaruh pemutusan arus informasi sensoris yaitu melalui operasi. Melalui operasi yang disebut dorsal rhizotomi bagian punggung binatang dioperasi dan otot-otot terbuka secara cermat sehingga Nampak akar-akar dorsal. Kemudian pada tingkat spinal yang dikehendaki, akar-akar dorsal dipotong dengan maksud agar informasi sensoris tidak dapat mencapai spinal cord yang bersangkuta. Prosedur itu telah dilakukan terhadap kucing, kera dan binatang lain untuk mempelajari efek pemutusan syaraf afferent terhdap pengontrolan gerak.
2. Pemutusan Syaraf Afferent Pada Manusia.
Pada manusia, eksperimen semacam itu memang amat terbatas kemungkinannya untuk dilakukan, namun beberapa contoh yang menunjukkan terjadinya deafferentation juga dapat dikemukakan, seperti hasil study Lashley (1917) terhdap pasien yang terluka karena temabakan pada tulang punggung bagian bawah. Bagian yang terluka itu menimbulkan akibat yang serupa dengan pemutusan syaraf afferent melalui prosedur operasi yakni terputusnya mata rantai umpan balik dari gerakan anggota tubuh. Pada pasien yang menderita kangker operasi pemutusan syarafafferent juga bisa dilaukan untuk menghilangkan rasa sakit. Herman (1979)telah melakukan penelitian terhadap control anggota tubuh yang mengalami pemutusan syaraf afferent. Hasilnya mendukung penemuan terdahulu.
Kendatipun hasil sejumlah penelitian tentang efek pemutusan syaraf afferent dengan jelas menunjukkan bahwa umpan balik dari bagian tubuh yang merespons tak penting bagi kelangsungan gerak, tapi bukti-bukti semcam itu sering tak memadai untuk menyimpulkan bahwa umpan balik pada umumnya tak pernah dipakai untuk mengontrol suatu gerakan. Pada hewan, efek dari pemutusan syaraf afferent ialah hilangnya control terhadap gerakan yang halus. Menurut adams (1971, 1976b) bahwa mungkin ada umpanbalik sebagai pengganti hilangnya sensasi akibat pemutusan arus informasi sensoris pada syaraf afferent.
B. KONTROL TERHADAP GERAK CEPAT
Masalah lain yang menarik perhatian para ahli yaitu bagai mana pengontro;an gerak cepat. Misalnya ayunan alat pemukul dalm baseball yang berlangsung selama 100 mildetik atau kecepatan pukulan jab Mohammad Ali (40 milidetik), hal ini merupak contoh dari gerakan cepat yang sering kita alami dalam peaksanaan tugas gerak sehari-hai atau dalam kegiatan olahraga. Studi di laboratrium terhadapa gerakan yang cepat itu bisa dilakukan misalnya saja, tugas gerak meluruskan siku dari posisi tertentu akan menyebabkan ujung tangan bergerak dari posisi asal ke posisi berikutnya sepanjang 30 cm. gerakan tersebut seolah-olah amat sederhana namun aktivitas neurologis yang terait dengan tugas gerak itu sedemikian kompleks.
Seperti dijelaskan Schmidt (1988) beberapa contoh hasil study para peneliti dapat dikemukakan, tapi hasil study akhir-akhir ini yang dilakukan Wadman, Danniesr Van der Gon, Geuze dan Mol (1979) dianggap sangat berhasil untuk menggambarkan peristiwa aktivitas neurologis di balik pelaksanaan tugas gerak.
1. Masalah Derajat Kebebasan Gerak.
Satu keberatan yang muncul dalam model pengontrolan gerak system tertutup dan model lain yang berpendapat bahwa kontraksi dari beberapa kelompok otot ditangani oleh komanado dari system syaraf yang lebih tinggi, mula-mula dilontarkan oleh ahli faal Rusia, Bernstein yang ditulisnya pada tahun 1940-an (diterjemahkan pada tahun 1967). Pokok gagasan ialah bahwa system memiliki sedemikian banyak kondisi independen yang harus dikontrol pada saat bersamaan. Keadaan independen ini biasa disebut derajat kebebasan. Maksudnya ialah setiap persendian mampu untuk bergerak secara independen paing tidak memiliki satu derajat kebebasan yang harus dikontrol dalam satu tindakan.seperti diuraikan Schimdt (1988) beberapa persendian dalam kenyataannya memiliki 2 derajat kebebasan seperti pada bahu yang dapat membiarkan tangan bergerak dalam setengah ruang gerak, dan memutar ruas lengan secara bebas. Mengapa demikian? Hal ini karena setiap persendian memiliki sejumlah otot yang bekerja pada persendian yang bersangkutan dan setiap otot-otot ini terbangun oleh ratusan unit motorik yang harus dikonrol. Keadaan demikian hamper-hampir mustahil dapat dikontrol secara terpisah oleh keputusan yang disadari (Green, 1972, Scmindt 1989).
Berdasarkan gejala dari luar ketika kita melakukan suatu gerakan yang menjadi pusat perhatian kita ialah bukan bagian tubuh atau otot-otot yang kita pergunakan, tetapi sasaran atau hasil yang ingin kita capai serta cara atau pola gerak yang akan kita lakukan.kita tak menyadari kelomok otot mana atau unit motorik tertentu yang terlibat. Karena itu jika araf eksekutif tidak bertanggung jawab untuk mengontrol kebebasan bagian-bagian tubuh untuk bergerak, bagaimana derajat kebebasan yang sedemikian banyak itu terkontrol dan bagaimana suatu keterampilan dilakukan dengan baik melaluli pengorganisasian otot-otot yang terkait dan persendian bisa diperoleh?
2. Keterbatasan dalam Kecepatan Pemrosesan Informasi.
Kita masih menguji keabsahan model pengontrolan gerak system terbuka. Muncul lagi argument terhadap ide yang terkandung didalamnya bahwa beberapa tingkat eksekutif secara langsung menyela “kerja” otot triceps dan merangsang biceps untuk aktif. Berkaitan dengan waktu yang tersedia untuk membangkitkan waktu yang tersedia tahap-tahap pemprosesan informasi membutuhkan waktu cukup bagi stimulus yang berasal dari lingkungan untuk memulai mengahasilkan beberapa respons baru seperti “mematikan” kerja biceps dan “menghidupkan” triceps seperti terekam dengan EMG. Model ini rupanya hanya cocok bagi gerakan yang lambat. Bagi suatu gerakan yang cepat model tersebut kayanya kurang sesuai karena tugas gerak sudah selesai sementara pemprosesan informasi masih berlangsung. Kata Schmidt (1988) beberapa proses mesti terlibat dalam pengaktifan beberapa kelompok otot.
Meskipun demikian, kata Schmidt (1988) terdapat kemungkinan ola gerak semacam itu ditentukan oleh penyesuaian refleksif yang ditangani pada tingkat yang lebih rendah dalam system motorik.
3. Modifikasi dalam Respons Cepat.
Dalam bagia ini akan kita bahas beberapa bukti yang menunjukkan kemampuan seseorang untuk mengubah suatu gerakan begitu telah dilakasanakan.
Kita dapat mengemukakan beberapa contoh tentang otomisasi yang terjadi dalam pelaksanaan tugas gerak tertentu. Seseorang pemain piano yang sudah amat mahir dapat memainkan tot piano tanpa disadarinya bahwa ada diantaranya yang sudah rusak. Jika kita mengancing baju kita, sangat mungkin kita tak menyadari bahwa ada diantara kancing baju sudah lepas jari-jari kita terus saja mengancing buah kancing hingga selesai. Kedua ilustrasi tersebut menunjukkkan, bahwa proses pelaksanaan tugas gerak sama sekali tidak membutuhkan umpanbalik dari pelaksanaan gerak itu sendiri. Tentu saja contoh tersebut kurang bagus, karena bukan merupakan kata yang solid. Bukti-bukti eksperimen yang kita butuhkan.
Eksperimen Henry dan Harrison (1961) sangat cocok untuk menguji kebenaran hipotesis tentang efek pemeberian aba-aba yang diberikan sebelum suatu gerakan dimulai terhadap perubahan gerak. Dengan tidak memaparkan prosedur eksperimen yang mereka lakukan kita sampai pada kesimpulan penelitiannya, bahwa sebuah sinyal yang dihadirkan sebelum gerakan dilakukan tidak efektif dalam perubahan gerak tertentu, meskipun gerak itu berakhir hingga 199 milidetik.
Peranan mata dalam proses pengontrolan gerak juga menjadi perhatian para ahli. Hal ini disebabkan karena hasil pengindraan stimulus dengan mata begitu penting dalam berbagai kegiatan. Juga teramasuk penampilan gerak dalam olahraga. Satu contoh penelitian yang paling dikenal tentang seberapa jauh peranan mata yakni study yang dilakukan oleh Keeled an Posner (1968). Sekedar untuk memberikan gambaran umum, kedua peneliti tersebut menyuruh subyek yang menjadi anggota sampel untuk mengerakkan sebuah jarum penulis (semacam pensil) kesebuah target dengan jarak beberapa sentimeter. Waktu gerak (WG) yang diperlakukan telah diketahui dan subyek dilatih untuk menggerakkan alat tersebut dalam waktu terpisah masing-masing 150, 250, 350, atau 450 milidetik. Jika subyaek telah mahir dan menguasai beberapa WG tersebut, untuk selanjutnya peneliti memadamkan lampu ketika subyek telah meninggalkan posisi awal sehingga gerakan dimulai dalam keadaan gelap. Landasan pemikiran ialah jika dalam kondisi 250 milidetik, misalnya kondisi lampu menyala menghasilkan lebih sedikit eror geraka ketimbang eror dalam kondisi lampu mati. Maka hal itu berarti bahwa penglihatan dipergunakan dalam mengontrol gerakan. Sebaliknya, jika tak diperoleh cahaya terang implikasi kondisi tersebut ialah bahwa penglihatan tak dipergunakan, dan waktu pemprosesan umpanbalik visual lebih besar dari pada WG. Berdasarkan data yang mereka kumpulkan, maka diperoleh kesimpulan bahwa ketika WG 190 milidetik atau kurang, penglihatan terhadap posisi tangan atau target tidak memberikan kontribusi terhadap control gerak dan umpanbalik visual membutuhkan sekurangnya 190 milidetik untuk diproses. Tatkala WG meningkat, satu keuntungan besar diperoleh ketika lampu dinyalakan. Artinya ialah penglihata itu dipakai jika waktu yang tersedia cukup untuk mendeteksi kesalahan yang terjadi untuk dikoreksi. Jadi kedua peneliti, mengemukakan, bahwa yang dibutuhkan untuk memproses informasi umpanbalik antara 190 dan 260 milidetik.
C. PERENCANAAN JAUH SEBELUM SUATU GERAKAN
Model ini menunjukkan bahwa ada tahap yang harus dilalui secara lengkap dan tak akan dicapai pada tahap berikutnya sebelum tahap terdahulu selesai ditempuh, implikasi penting dalam tahap itu adalah jika suatu gerakan tubuh yang kompleks dilakukan dan dibutuhkan sejumlah waktu untuk menyelesaikan suatu gerak yang kita namakan waktu gerak, maka akan selalu waktu tenggang waktu antara stimulus dan saat memulai gerakan. (yakni, Waktu Reaksi atau WR seperti yang dijelaskan Henry rogers 1960). Semakin kompleks suatu gerakan dan semakin lama WG, maka semakin lama WR yang dihasilkan.
1. Kontrol Lokomotor.
Grillner (1975) mereview sejumlah hasil penelitian tentang control lokomotor dan gerak spesies ketika berjalan atau berlari. Salah satu diantara study itu tertuju pada persiapan “spinal” pada kucing atau binatang lainnya. Bagian ruasa tulang belakang itu dipotong dibawah otak sehingga fungsi sitem syaraf pusat tidak akan mempengaruhi system yang lebih rendah, dan bahkan sering pula dilakukan bagian ruas tulang belakang itu dioperasi. Jika ruas tulang belakang itu sudah sedemikian siap untuk dirangsang, maka kita dapat menunjukkan gerak secara priodik dalam pengertian aktivitas dalam serabut-serabut efferent muncul dari sisi ventral bagian ruas tulang belakang. Jadi ruas bagian tulang belakang rupanya cukup mampu menghasilkan suatu gerakan yang teratur atau berirama tanpa umpanbalik dari anggota tubuh yang bergerak. Dalam pola gerak anggota tubuh ketika berlari atau berjalan irama yang terjadi pada tingkat ruas tulang belakang ini dipahami sebagai rangsangan pertama motoneuron otot ekstensor dan fleksor lagi yang berlangsung dalam satu pola gerak rupanya gabian ruas tulang belakang itu memiliki sirkuit persyarafan yang kompleks yang mengahasilkan satu pola gerak.sirkuit itu sering disebut dalam istilah central pattern generators atau pusat pembangkit pola.
Memang menarik perhatian untuk menamati pola gerak hewan misalnya ketika berjalan dan berlari. Lalu apa sebenarnya yang terkait dengan pola gerak itu. Hasil penelitian yang diungkapkan oleh Shik, Orlavski dan Severin (1968) menjelaskan bahwa dengan satu teknik operasi pada kucing memungkinkan kita mengamati langsung peristiwa tersebut.
Ada lagi peneliti lain tapi tidak dikemukakan disini. Rupanya yang lebih kita pentingkan ialah bagaimana skema dari pristiwa pengontolan gerak pada mahluk hidup ketika berjalan atau berlari.
Schmidt (1988) menjelaskan dari berbagai bukti yang diperolah nampak konsep penting yang mengotrol keteraturan gerak anggota tubuh jika mahluk hidup berjalan atau berlari. Pola gerak itu dikontrol oleh pola generator yang “tersambung” satu sama lain sehingga gerakan yang lebih detai dapat dikoordinasikan. Kesemua itu dapt diaktifkan oleh beberapa sumber dan dapat berlangsung terus menerus sehingga kemudian semakin mereda dan sepenuhnya dihentikan oleh sumber input lainnya. Pola gerak itu muncul dalam bentuk umum yang tak berubah-ubah, namun pada hewan yang lebih tinggi tingkatannya terdapat kemungkina terjadi modifikasi baik karena system pengaruh syaraf yang lebih tinggi yang menyebabkan gerakan bertambah giat atau lebih bertenaga, maupun pengaruh dari sitem umpanbalik yang lebih rendah yang memungkinkan terjadinya variasi gerak.
Persoalan lain ialah keterlibatan reflek dalam gerak perpindahan tubuh menjadi topic perdebatan dalam sejarah penelitian keterampilan motorik. Pandangan lama, misalnya mengatakan pola kegiatan anggota badan itu dipahami terdiri dari aktivitas reflek yang berdasar (misalnya pendapat Easton, 1972). Pendapat ini berbeda dengan hipotesis rangkaian refleks didalmnya erdapat pengertian bahwa komponen refleks itu merupakan pola gerak yang diturunkan secara genetic seperti Nampak dalam gerakan bayi. Dalam hipotesis rangkaian refleks tercakup berbagai kegiatan meskipun kesemuannya itu dipelajari.
Variasi lain dari konsep reaksi terpacu (triggered reaction) ialah konsep reflek yang berlawanan yang di gambarkan terjadi dalam gerak oleh Forsberg, Grillner dan Gogsinol (1975). Hal ini dapat kita pahami, misalnya ketika seekor kucing berjalan dan tiba-tiba diberikan rangsangan arus listrik yang lemah atau telapak kakinya disentuh ketika sedang mangalami fleksi (kakinya diangkat dan sedang diayunkan kedepan), maka yang terjadi suatu peningkatan pada respons fleksi seperti kucing itu mencoba untuk mengelak sebuah rintangan yang menyebabkan dia berjingkat. Akan tetapi ketika stimulus yang sama diberikan kepada kaki ketika mendarat ketanah (posisi berdiri), maka ada reaksi atau barangkali hanya sedikit ekstensi yang terjadi pada kaki yang teransang. Karena rangsang yang sama menghasilkan dua pola gerak yang berbeda tergantung pada fase gerakan kaki, efek tersebut disebut gejala reflek yang berlawanan. Padaha seperti kita ketahui gerak reflek dianggap sebagai sebuah respons dengan pola tetap terhadap stimulus tertentu. Tapi bukti tersebut diatas tadi menunjukkan respon stimulus tergantung pada lokasi anggota tubuh dalam siklus melangkah. Jadi konsep, control refleks tidak dapat dipakai untuk menjelaskan gejala tersebut.
Ketika gerak berlangsung yang mudah kita pahami yaitu otot memanjang dan memendek. Otot-otot dan tendon yang mencantolkan otot dengan tulang memiliki tingkat kepegasan tertentu otot memiliki seperangkat komponen elastis.
D. PERPADUAN MEKANISME YANG MENDASAR.
Gambaran tentang bagaimana mekanisme gerak yang terjadi pada manusi sudah kita jelaskan meskipun masih terpisah-pisah antara satu dengan yang lainnya. Seolah olah system motorik itu terdiri dari sekelompok mekanisme yang tak berkaitan satu sama lain. Hal ini mungkin terjadi karena para peneliti meneliti beberapa masalah kecil yang terpisah satu sama lain, sehingga tak Nampak satu gamabaran menyeluruh. Namun demikian dari pengamatan sepintas kita melihat bahwa gerak itu berlangsung mulus terpadu kompak satu sama lain ketika menghasilkan keterampilan manusia. Yang menadi pertanyaan kita bagaimana mekanisme tersebut dikombinasikan da dikoordinasikan merupakan focus pembahasan dalam uraian berikut.
Salah satu debat yang cukup berkepanjangan pada tahun 1970-a yaitu terjadi antara centralist yang berpendapat bahea gerak dikontrol oleh pusat penyimpanan program motorik, dan pripheralist yakni orang yang berpendapat bahwa gerak yang dikontrol oleh umpanbalik berlandaskan mekanisme itu sendiri. Masing-masing kelompok mengemukakan argumentasinya. Pihak centralist menunjukkan bukti-bukti yang menyatakan bahwa gerak dapat dihasilkan meskipun tidak ada umpan balik dan pusat pembangkit gerak itu diketahui merupakan pengontrolan gerak berjalan (berlari) pada hewan yang lebih rendah. Sebaliknya, kalangan peripheralist berpendapat, jika umpan balik diabaikan maka penampilan gerak terganggu atau tidak normal dank arena itu bukti dari pusat pembangkit pola gerak kurang kuat. Masing-masing kubu mengajukan hasil eksperimennya.
Seperti yang diutarakan Schmidt (1988), kini perbedaan pendapat sudah tidak tajam lagi bahkan telah ada semacam rekonsiliasi pendapat kedua piha sehingga menjadi sebuah pandangan yang terpadu tentang gerak manusia. Bagaimana sintesis pandangan keduan kelompok yang berbeda akan diabahas dalam bagian berikut
1. Pengaruh Waktu Gerak.
Memang sulit untuk menyimpulkan bahwa gerak manusia pada dasarnya dikontrol oleh model system tertutup, dimana pelaksanaan gerak berlangsung melalui pemprosesan informasi dalam beberapa tahap yang diselesaikan secara utuh dan lengkap.
2. Kontrol Secara Periodik.
Salah satu jalan untuk memecahkan konflik antara kedua aliran itu sentralist vs periferalis ialah dengan cara mengindahkan masing-masing kedua cara pengontrolan gerak. Salah satu contoh ialah ide tentang control secara periodic. Program gerak menyediakan beberapa tindakan, menggerakkan kemudi mobil agar kendaraan masuk garasi tanpa menyenggol pagar lalu kemudian tibanya informasi sensoris dimanfaatkan untuk menentukan kesalahan gerak. Bila informasi yang relefan cukup maka dapat diketahui kesalahan gerak sehingga kemudian dapat dilakukan koreksi baru dan kesalahan dihilangkan dan seterusnya. Dalam teori yang sama diketahui bahwa proses umpan balik megevaluasi informasi sensoris dan menghitung eror dan proses program motorik menghasilkan tindakan dalam anggoa tubuh untuk menyisihkan eror (Schmidt, 1988).
Dalam pelaksanaan suatu gerak yang cepat kearah sebuah target (misalnya dengan waktu gerak sekitar 500 milidetik). Sebuah model yang paling menonjol beranggapan bahwa pada awasl kelangsungan system terbuka bagian tubuh digerakkan menuju sebuah target dan keudian control umpanbalik menjadi penting menjelang tercapainya sasaran akhir. Model ini telah dikemukakan oleh Woodworth (pada tahun 1899)dan versi yang lebih modern dikupas oleh Welford (1968) dan akhir-akhir ini oleh Abrams, Korblum, Wright dan Smith. Kesemua itu menggunakan baik system tertututp maupun system terbuka untuk menjelaskan fenomena gerak.
3. Umpanbalik dan Pelaksanaan Program.
Suatu cara lain untuk memahami bahwa umpan balik dan proses program dianggap bersama-sama yaitu dengan menganggap bahwa proses umpan balik itu pada dasarnya tercakup dalam sebuah proses sitem terbuka. Dalam uraian tentang koreksi berdasarkan kerja pilihan otot dikemukakan disebuah program bagi suatu tindakan berlangsung atas dasar sitem terbuka, namun pada saat bersamaan koreksi atas dasar umpan balik nampaknya juga mungkin berlangsung untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan kecil yang terjadi pada gerakan anggota tubuh.
4. Fleksibilitas Proses Pengotrolan.
Oleh karena terdapat banyak duplikasi dalam system motorik maka meskipun system syaraf pusat tidak berfungsi tubuh kita masih mungkin melakuka gerak, implikasi penting dari duplikasi struktur organisme itu memungkinkan perilaku motorik dapat dilaksanakan kendatipun system utama mengalami kelelahan atau cidera.
Schmidt (1988) menjelskan factor yang paling utamauntuk memiliki proses umpan balik atau pengontrolan melalui pemograman ialahtingkat belajar itu sendiri. Factor lain yang menentukan ialah bahwa dalam pemamnfaatan proses umpanbalik dibutuhkan factor perahatian yang cukup kuat. Control umpanbalik yang terlibat dalam tahap-tahap peprosesan informasi sangat membutuhkan perhatian sehingga tak dapat dielakkan proses tersebut akan diaganggu oleh aktivitas lain yang dilakukan dalam waktu bersamaan. Jika kita kembali pada hipotesis yang mangatakan makin terlatih suatu gerakan akan lebih cenderung dikontrol oleh program motorik. Keuntungannya ialah gangguan dari factor luar akan berkurang.
Pelaksanaan gerak atas dasar system tertutup membutuhkan usaha mental yang kuat (Kahneman, 1973) implikasi dari konsep ini ialah seseorang masing mungkin untuk merespons dalam keadaan letih dengan cara mengalihkan control berdasarkan program motorik, sehingga pelaksanaan gerak itu tanpa kesadaran yang mendalam. Namun demikian efektivitas control motorik. Misalnya dalam pelaksanaan gerak yang sudah rutin seperti menyetir mobil, akan terganggu oleh kegiatan lain. Umpamanya oleh gerak si pengemudi ketika menyulut rokoknya atau menyetel radio.